Wabah Intelektual Bernama Lupa: Saat Ilmu Hanya Menjadi Tamu, Bukan Penghuni Tetap

Wabah Intelektual Bernama Lupa: Saat Ilmu Hanya Menjadi Tamu, Bukan Penghuni Tetap

آفَةُ الْعِلْمِ النِّسْيَانُ

Aafatul ‘ilmi an-nis yaanu

“Wabah (penyakit) dari ilmu adalah lupa”

 

Di era informasi, kita dibanjiri oleh pengetahuan. Kita membaca artikel, menonton video edukasi, dan mendengarkan podcast dalam perjalanan. Kita merasa terus-menerus belajar dan bertambah pintar. Namun, ada sebuah pengalaman yang menyakitkan dan seringkali kita alami: saat mencoba mengingat kembali ide brilian dari buku yang kita baca bulan lalu, yang tersisa di benak kita hanyalah sampulnya yang berwarna biru.

Informasi itu pernah masuk, tetapi ia tidak pernah tinggal. Ia hanya singgah sebentar lalu pergi tanpa pamit. Fenomena yang terasa seperti kegagalan personal ini ternyata telah diidentifikasi sejak lama sebagai sebuah penyakit intelektual yang serius. Sebuah mahfuzhat kuno mendiagnosisnya dengan sangat presisi: Aafatul ‘ilmi an-nis yaanu. Terjemahannya singkat dan mengerikan: “Wabah (penyakit) dari ilmu adalah lupa.”

Perhatikan kata yang digunakan: aafah. Ini bukan sekadar “kelemahan” atau “kekurangan”. Aafah berarti wabah, penyakit, atau hama—sesuatu yang secara aktif merusak dan menghancurkan inangnya. Mahfuzhat ini tidak mengatakan bahwa lupa adalah hal yang normal; ia mengatakan bahwa lupa adalah sebuah proses pembusukan aktif yang menggerogoti nilai dari ilmu itu sendiri.

Artikel ini adalah sebuah investigasi terhadap wabah kelupaan ini. Kita akan membedah mengapa lupa bukanlah sekadar kekosongan memori melainkan kerusakan aktif, bagaimana “otak eksternal” kita di era digital justru memperparah gejalanya, dan apa “vaksin” yang bisa kita gunakan untuk mengikat ilmu agar ia menjadi penghuni tetap, bukan sekadar tamu sesaat.

 

Diagnosis ‘Aafah’: Lupa Bukan Sekadar Kekosongan, Tapi Kerusakan Aktif

Kesalahan pertama kita adalah menganggap lupa sebagai sebuah ruang kosong. Kita membayangkan memori kita seperti papan tulis; saat kita lupa, sebagian tulisan di papan itu terhapus. Padahal, metafora yang lebih akurat adalah kebun. Ilmu yang kita tanam adalah bibit berharga. Lupa adalah “hama” atau “gulma” yang tidak hanya mengganggu pertumbuhan bibit itu, tetapi juga merusak kesuburan tanah di sekitarnya.

Setiap ilmu yang kita pelajari membutuhkan investasi: waktu, energi, dan biaya. Lupa adalah kondisi di mana investasi tersebut kembali ke titik nol, atau bahkan minus. Mengapa minus? Karena pengetahuan yang setengah terlupakan bisa lebih berbahaya daripada tidak tahu sama sekali. Ia bisa melahirkan kesalahpahaman, arogansi palsu (“Saya pernah baca tentang ini, sepertinya…”), dan keputusan yang didasarkan pada informasi yang tidak lengkap.

Wabah kelupaan ini secara spesifik menyerang esensi dari ilmu itu sendiri. Tujuan ilmu bukanlah untuk dikoleksi, melainkan untuk mengubah cara kita berpikir, melihat dunia, dan bertindak. Ketika kita melupakan inti dari apa yang telah kita pelajari, kita tidak hanya kehilangan fakta; kita kehilangan potensi transformasi diri. Ilmu itu menjadi seperti fosil: ia ada, tetapi ia mati dan tidak lagi memiliki daya hidup.

Bayangkan ilmu yang terlupakan itu seperti makanan yang tidak pernah dicerna. Makanan itu masuk ke dalam tubuh, tetapi tidak pernah diolah menjadi energi. Ia hanya menumpuk di dalam perut, menjadi beban, dan akhirnya membusuk menjadi sumber penyakit. Itulah yang terjadi saat informasi hanya masuk ke memori jangka pendek kita tanpa pernah diintegrasikan menjadi kebijaksanaan.

 

Gejala Modern: ‘Otak Eksternal’ dan Ilusi Pengetahuan

Di zaman modern, kita merasa telah menemukan obat untuk penyakit lupa: “otak eksternal”. Kita punya Google, Wikipedia, Notion, dan ribuan aplikasi pencatat lainnya. Kita berpikir, “Untuk apa repot-repot mengingat, kalau saya bisa mencarinya dalam tiga detik?” Inilah sebuah ironi: “obat” yang kita ciptakan justru memperparah gejalanya.

Ketergantungan pada otak eksternal menciptakan sebuah ilusi kompetensi. Kita merasa berpengetahuan luas karena kita memiliki akses tak terbatas ke informasi. Padahal, ada perbedaan fundamental antara memiliki akses ke perpustakaan dengan memahami isi buku-bukunya. Kemampuan untuk mencari resep masakan di internet tidak secara otomatis membuat Anda menjadi seorang koki. Pengetahuan sejati adalah apa yang tersisa di benak Anda setelah koneksi internet dimatikan.

Penyakit ini menghambat kreativitas dan inovasi. Terobosan-terobosan besar dalam sejarah lahir dari kemampuan seseorang untuk menghubungkan ide-ide yang tampaknya tidak berhubungan di dalam benaknya sendiri. Inovasi adalah hasil dari persilangan gagasan yang telah menjadi penghuni tetap di dalam pikiran. Sulit untuk mendapatkan momen “Eureka!” jika semua ide Anda masih tersimpan di cloud dan belum pernah saling bertemu di ruang rapat otak Anda.

Gejala paling nyata dari wabah ini adalah pengetahuan yang “selebar samudra, sedalam mata kaki”. Kita tahu sedikit tentang banyak hal, cukup untuk dibicarakan di pesta, tetapi tidak cukup dalam untuk memecahkan masalah nyata. Kita menjadi turis intelektual yang hanya mengoleksi foto-foto, tanpa pernah benar-benar tinggal dan memahami budaya dari tempat yang kita kunjungi.

 

‘Vaksin’ dan ‘Terapi’: Seni Mengikat Ilmu agar Tak Pergi

Jika lupa adalah sebuah penyakit, maka ada vaksin dan terapinya. Kabar baiknya, “vaksin” ini telah ditemukan sejak lama. Vaksin pertama dan paling mendasar adalah pengulangan (muraja’ah). Namun, jangan melihatnya sebagai hafalan yang membosankan. Anggaplah ilmu itu sebagai seorang sahabat karib. Hubungan persahabatan akan mati jika tidak pernah ada pertemuan. Muraja’ah adalah tindakan “mengunjungi kembali” sahabat Anda secara berkala agar ikatan emosional dan intelektual tetap hidup.

Vaksin kedua yang sangat ampuh adalah mengajarkannya (ta’lim). Fisikawan Richard Feynman mempopulerkan sebuah teknik: cara terbaik untuk memastikan Anda memahami sesuatu adalah dengan mencoba menjelaskannya kepada orang lain dalam bahasa yang paling sederhana. Proses ini memaksa otak Anda untuk menyaring, menyederhanakan, dan mengorganisir informasi yang berantakan menjadi sebuah struktur yang kokoh. Jika Anda tidak bisa menjelaskannya dengan sederhana, berarti Anda belum benar-benar memahaminya.

Vaksin ketiga adalah mengamalkannya (‘amal). Inilah cara paling permanen untuk mengikat ilmu. Pengetahuan yang terhubung dengan sebuah pengalaman fisik atau emosional akan terpatri di otak kita dengan tinta abadi. Anda bisa membaca seratus buku tentang cara berenang, tetapi Anda tidak akan pernah melupakan caranya setelah Anda benar-benar melakukannya sekali saja. Tindakan adalah lem super bagi memori.

Terapi pelengkapnya adalah menghubungkannya (rabth). Setiap kali Anda mempelajari informasi baru, jangan biarkan ia berdiri sendirian. Tanyakan, “Ini berhubungan dengan apa yang sudah saya ketahui sebelumnya?” Dengan membangun jembatan antara pengetahuan baru dan lama, Anda menciptakan sebuah jaring laba-laba yang kuat, bukan sekadar titik-titik debu yang mudah tersapu angin.

 

Menerima Sifat Lupa: Menjadi Kurator, Bukan Sekadar Kolektor

Apakah ini berarti kita harus mengingat setiap detail kecil dalam hidup? Tentu tidak. Lupa juga merupakan fungsi otak yang sehat, yang membantu kita membersihkan informasi tidak relevan dan trauma masa lalu. Tujuan dari mahfuzhat ini bukanlah untuk mengubah kita menjadi mesin memori yang sempurna.

Tujuannya adalah untuk mendorong kita menjadi seorang kurator yang bijaksana bagi museum pikiran kita, bukan sekadar menjadi kolektor atau penimbun informasi. Seorang kurator tidak menyimpan semua barang, tetapi ia memilih dengan cermat artefak mana yang paling berharga, merawatnya dengan baik, dan memajangnya di tempat terhormat agar bisa terus dinikmati dan dipelajari.

Tugas kita adalah memutuskan: “Ilmu mana yang begitu penting sehingga layak saya perjuangkan dari wabah kelupaan ini?” Untuk ilmu-ilmu inti inilah, kita harus secara aktif memberikan “vaksin” berupa pengulangan, pengajaran, dan pengamalan. Sementara untuk informasi lainnya, biarkan “otak eksternal” kita yang menyimpannya.

Pada akhirnya, Aafatul ‘ilmi an-nis yaanu adalah sebuah pengingat tentang hubungan kita dengan pengetahuan. Ia mengajak kita untuk tidak memperlakukan ilmu sebagai komoditas sekali pakai, melainkan sebagai organisme hidup yang berharga. Ia butuh dirawat, disiram, dan diberi perhatian. Karena hanya ilmu yang hidup di dalam dirilah yang memiliki kekuatan untuk menerangi jalan kita dan mengubah hidup kita selamanya.

Copyright © 2026 Mahfuzhat