إِنَّ أَخَا الْهَيْجَاء مَنْ يَسْعَى مَعَك، وَمَنْ يَضُرُّ نَفْسَهُ لِيَنْفَعَك
Inna akhal haijaa` man yas’aa ma’ak, wa man yadhurru nafsahu liyanfa’ak
“Sesungguhnya saudaramu (di medan perang) adalah dia yang berjuang bersamamu, dan dia yang rela merugikan dirinya sendiri demi memberimu manfaat”
Di era media sosial, konsep “teman” telah mengalami inflasi besar-besaran. Jumlah teman kita diukur dalam angka ratusan atau bahkan ribuan. Kita terhubung dengan banyak orang, saling berbagi momen-momen indah, tawa, dan pencapaian. Namun, di tengah keramaian digital itu, banyak dari kita yang diam-diam merasa kesepian, bertanya-tanya: dari semua orang ini, siapa yang akan benar-benar ada saat hidup menjadi sulit?
Jauh sebelum ada daftar teman virtual, sebuah mahfuzhat telah menetapkan sebuah standar persahabatan yang sangat keras dan tak kenal kompromi. Ia tidak mendefinisikan teman dari kebersamaan saat pesta, melainkan dari keteguhan saat prahara. Pepatah itu berbunyi: Inna akhal haijaa man yas’aa ma’ak, wa man yadhurru nafsahu liyanfa’ak.
Terjemahannya begitu kuat dan heroik: “Sesungguhnya saudaramu (di medan perang) adalah dia yang berjuang bersamamu, dan dia yang rela merugikan dirinya sendiri demi memberimu manfaat.” Mahfuzhat ini tidak menggunakan kata “teman” biasa, melainkan akhal haijaa—saudara di medan perang. Sebuah metafora yang langsung mengangkat konsep persahabatan dari kedai kopi ke dalam parit pertahanan.
Artikel ini akan menjadi panduan Anda untuk memahami definisi persahabatan level tertinggi ini. Kita akan membedah apa artinya menjadi “saudara di medan perang” di zaman sekarang, bagaimana membedakan antara simpati pasif dan dukungan aktif, dan menggunakan standar kuno ini sebagai cermin, tidak hanya untuk melihat siapa teman sejati kita, tetapi juga untuk bertanya: sudahkah kita menjadi teman sejati bagi orang lain?
Bukan Sekadar Teman, Tapi ‘Saudara di Medan Perang’
Mari kita mulai dengan istilah yang luar biasa kuat: akhal haijaa`, saudara di medan perang. Ini langsung memberi tahu kita bahwa persahabatan sejati ditempa dan diuji bukan di saat-saat damai dan gembira, melainkan di tengah kekacauan, kesulitan, dan “peperangan”. “Medan perang” di kehidupan modern tentu bukan lagi tentang angkat senjata.
Medan perang kita hari ini adalah saat kita kehilangan pekerjaan, saat bisnis kita di ambang kebangkrutan, saat kita menghadapi diagnosis penyakit yang menakutkan, saat kita mengalami patah hati yang menghancurkan, atau saat kita berjuang melawan krisis kesehatan mental. Inilah “badai” yang sesungguhnya. Di saat-saat inilah, banyak “teman” kita yang tiba-tiba menghilang dari radar.
Teman biasa mungkin akan menjauh karena mereka tidak tahu harus berkata apa, takut ikut terseret dalam masalah, atau hanya tidak mau repot. Tetapi seorang “saudara di medan perang” memiliki reaksi yang berbeda. Saat mereka mendengar “sirene” tanda bahaya dalam hidup Anda, mereka tidak lari menjauh. Sebaliknya, mereka lari menuju Anda. Mereka melihat perjuangan Anda sebagai perjuangan mereka juga.
Bedanya seperti ini: teman biasa adalah sinyal Wi-Fi yang kuat saat Anda di rumah (saat semuanya nyaman), tetapi langsung hilang saat Anda paling membutuhkannya di jalan. “Saudara di medan perang” adalah power bank yang selalu Anda bawa; ia mungkin tidak terlihat mewah, tetapi ia ada untuk memberikan energinya saat Anda benar-benar di titik nol.
Seni ‘Berjuang Bersama’: Aksi Nyata di Atas Simpati Kata-kata
Bagian kedua dari mahfuzhat ini adalah yas’aa ma’ak—dia yang berjuang bersamamu. Ini adalah penekanan pada tindakan. Di era digital, sangat mudah untuk menunjukkan dukungan secara pasif. Kita bisa mengirim stiker pelukan, menulis komentar “Yang sabar, ya,” atau menekan tombol “peduli”. Semua itu baik, tetapi seringkali berhenti di situ.
“Berjuang bersama” adalah level yang berbeda. Itu berarti mengubah simpati menjadi partisipasi aktif.
- Bukan hanya berkata, “Kabari aku kalau butuh apa-apa,” melainkan langsung datang membawakan makanan karena tahu Anda tidak akan punya tenaga untuk memasak.
- Bukan hanya menjadi pendengar yang pasif, melainkan membantu Anda menyusun CV baru setelah Anda kehilangan pekerjaan.
- Bukan hanya berkata, “Semangat, ya, skripsinya,” melainkan menawarkan diri untuk membaca draf Anda atau sekadar menemani Anda begadang sambil membuatkan kopi.
Tindakan-tindakan ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya peduli pada perasaan Anda, tetapi juga peduli pada penyelesaian masalah Anda. Mereka rela menginvestasikan aset mereka yang paling berharga—waktu dan energi—untuk meringankan beban Anda. Mereka tidak menonton Anda dari pinggir lapangan sambil bersorak, mereka turun ke lapangan dan ikut berlari bersama Anda.
Persahabatan sejati adalah kata kerja. Ia menuntut kehadiran, usaha, dan keterlibatan. Ia adalah komitmen untuk tidak membiarkan sahabat kita berjuang sendirian di tengah medan perangnya.
Puncak Pengorbanan: Saat Kepentinganmu Menjadi Prioritasnya
Inilah standar tertinggi dan paling langka dari persahabatan sejati: wa man yadhurru nafsahu liyanfa’ak—dia yang rela merugikan dirinya sendiri demi memberimu manfaat. Ini adalah definisi altruisme yang murni, sebuah tindakan yang menempatkan kesejahteraan sahabat di atas kenyamanan diri sendiri.
“Merugikan diri” di sini tidak selalu berarti membahayakan nyawa. Dalam konteks modern, ia bisa berarti:
- Bangun jam 2 pagi untuk menjemput Anda di bandara, meskipun ia harus presentasi penting jam 8 pagi.
- Memberanikan diri membela Anda di hadapan orang lain yang membicarakan keburukan Anda, meskipun itu membuatnya ikut tidak disukai.
- Memberikan pinjaman uang untuk kebutuhan mendesak Anda, padahal ia sendiri sedang dalam kondisi keuangan yang pas-pasan.
Tindakan-tindakan ini lahir dari sebuah loyalitas yang mendalam. Ini adalah bukti bahwa nilai persahabatan Anda bagi mereka lebih tinggi daripada nilai kenyamanan, reputasi, atau bahkan materi mereka sendiri pada saat itu. Ini adalah cinta tanpa pamrih dalam bentuknya yang paling nyata.
Tentu saja, ini bukan berarti persahabatan adalah tentang menjadi keset atau dimanfaatkan. Hubungan ini harus timbal balik. Pengorbanan ini lahir dari kasih sayang, bukan kewajiban, dan dilakukan dalam kerangka saling menjaga, bukan saling merugikan secara membabi buta.
Menjadi dan Menemukan: Cermin untuk Lingkaran Pertemanan Kita
Mahfuzhat ini memberikan kita sebuah cermin dengan dua sisi. Sisi pertama adalah untuk melihat ke luar, untuk mengaudit lingkaran pertemanan kita. Siapakah di antara teman-teman kita yang benar-benar seorang akhal haijaa`? Kesadaran ini akan membuat kita lebih menghargai mereka yang benar-benar berharga. Kualitas jauh mengalahkan kuantitas. Memiliki satu atau dua “saudara di medan perang” jauh lebih berharga daripada memiliki seribu teman di saat cerah.
Namun, sisi cermin yang lebih penting adalah untuk melihat ke dalam diri kita sendiri. Pertanyaan yang harus kita ajukan adalah: Sudahkah saya menjadi seorang akhal haijaa` bagi sahabat-sahabat saya? Apakah saya tipe teman yang hanya ada saat senang-senang, atau saya adalah orang pertama yang mereka hubungi saat badai datang? Apakah saya rela berkorban dan berjuang bersama mereka?
Karena pada akhirnya, kita tidak bisa menuntut jenis persahabatan yang kita sendiri tidak mau memberikannya. Persahabatan sejati tidak ditemukan, ia dibangun. Ia adalah hasil dari investasi kesetiaan, empati, dan pengorbanan dari kedua belah pihak.
Jadi, jangan hanya sibuk mencari teman sejati. Mulailah dengan menjadi teman sejati. Rawatlah hubungan Anda yang paling berharga. Hadirlah di medan perang mereka. Karena ikatan yang ditempa dalam kesulitan adalah ikatan yang paling kuat dan akan bertahan seumur hidup.




