بَيْضَةُ الْيَوْمِ خَيْرٌ مِنْ دَجَاجَةِ الْغَدِ
Baidhatul yaumi khairun min dajaajatil ghadi
“Sebuah telur hari ini lebih baik daripada seekor ayam esok hari.
Mari kita jujur, ada satu kalimat ajaib yang mungkin lebih sering kita ucapkan daripada “terima kasih” atau “tolong”. Kalimat itu adalah, “Nanti saja, deh.” Kita menunda mengerjakan tugas hingga detik-detik terakhir, menunda memulai olahraga dengan janji “mulai hari Senin depan”, dan menunda menabung dengan alasan “bulan depan pasti bisa”. Penundaan, atau prokrastinasi, adalah penyakit manis yang menjangkiti hampir semua orang.
Di tengah pertarungan abadi antara “lakukan sekarang” dan “lakukan nanti”, sebuah pepatah Arab kuno datang menawarkan sebuah logika yang sangat sederhana namun menohok. Pepatah itu berbunyi, Baidhatul yaumi khairun min dajaajatil ghadi. Terjemahannya adalah: “Sebuah telur hari ini lebih baik daripada seekor ayam esok hari.” Sebuah perbandingan yang terdengar aneh, namun menyimpan kunci untuk produktivitas dan ketenangan pikiran.
Sekilas, pepatah ini terdengar tidak ambisius. Bukankah ayam jauh lebih berharga daripada sebutir telur? Tentu saja. Namun, mahfuzhat ini tidak sedang berbicara tentang nilai benda, melainkan tentang nilai kepastian dan kekuatan aksi di masa kini. Ia adalah sebuah kritik tajam terhadap kebiasaan kita yang seringkali mengorbankan hasil nyata yang kecil demi sebuah janji besar yang belum tentu terwujud.
Artikel ini akan mengupas tuntas filosofi di balik telur dan ayam ini. Kita akan menggali mengapa hasil kecil yang ada di tangan jauh lebih berharga, membongkar jebakan psikologis di balik janji-janji masa depan, dan merumuskan bagaimana prinsip sederhana ini bisa kita jadikan senjata ampuh untuk menaklukkan kebiasaan menunda-nunda.
Filosofi ‘Satu Telur’: Menghargai Kekuatan yang Ada di Genggaman
Mari kita analisis metafora “telur hari ini”. Telur adalah sesuatu yang nyata, konkret, dan sudah ada di tangan kita. Ia mungkin kecil, tapi nilainya pasti. Kita bisa langsung memasaknya, menikmatinya, dan mendapatkan nutrisi darinya. Telur ini melambangkan setiap tugas kecil yang berhasil kita selesaikan, setiap kemajuan—sekecil apa pun—yang kita raih pada hari ini.
Secara psikologis, menyelesaikan sebuah tugas, bahkan tugas kecil sekalipun, akan melepaskan dopamin di otak kita. Dopamin adalah neurotransmiter yang terkait dengan rasa puas dan motivasi. Dengan “mengamankan telur” hari ini, kita memberi diri kita suntikan motivasi kecil yang akan mendorong kita untuk bergerak menyelesaikan tugas berikutnya. Inilah yang disebut dengan membangun momentum.
Momentum adalah kekuatan yang dahsyat. Jauh lebih mudah untuk terus bergerak saat kita sudah mulai bergerak. Masalah terbesar dari penundaan adalah memulai langkah pertama. Prinsip “telur hari ini” mengajak kita untuk tidak pusing memikirkan seluruh perjalanan, tapi fokus saja untuk mengambil satu langkah pertama yang paling mudah. Amankan satu “telur”, maka “telur-telur” berikutnya akan terasa lebih ringan untuk diraih.
Selain itu, kepastian memberikan ketenangan. Ketika kita berhasil menyelesaikan sesuatu hari ini, beban pikiran kita berkurang. Kita bisa tidur lebih nyenyak. Sebaliknya, menumpuk pekerjaan untuk “esok hari” hanya akan menumpuk kecemasan yang menggerogoti energi mental kita, bahkan sebelum kita mulai bekerja.
Jebakan ‘Ayam Esok Hari’: Ilusi Kesempurnaan dan Penantian Sia-sia
Sekarang, mari kita bedah “ayam esok hari”. Ayam jelas lebih besar, lebih menjanjikan. Ia bisa memberi kita banyak telur dan daging. Ia melambangkan hasil yang ideal, proyek yang sempurna, atau kesuksesan besar yang kita impikan. Namun, ada satu masalah besar: ia masih berada di “esok hari”. Ia masih berupa janji, sebuah potensi yang belum terwujud.
Jebakan “ayam esok hari” adalah alasan utama kita menunda. Kita tidak memulai menulis skripsi karena menunggu “mood yang sempurna”. Kita tidak memulai bisnis karena menunggu “modal yang ideal”. Kita tidak berolahraga karena menunggu “waktu yang luang”. Kita terus menatap ilusi “ayam” yang sempurna di masa depan, sementara “telur-telur” kesempatan yang nyata hari ini kita biarkan terbuang.
Inilah yang disebut dengan “Analysis Paralysis” atau kelumpuhan akibat terlalu banyak berpikir. Kita begitu sibuk merancang sebuah peternakan ayam yang canggih dan sempurna di dalam kepala, sehingga kita lupa bahwa untuk memulai peternakan, kita hanya butuh satu hal: sebutir telur. Kita lebih memilih janji kesempurnaan di masa depan daripada kemajuan yang tidak sempurna di masa sekarang.
Faktanya, keranjang belanja di aplikasi e-commerce kita adalah kuburan massal dari “ayam-ayam esok hari”. Kita memasukkan banyak barang dengan janji akan membelinya “nanti kalau ada diskon besar”, lalu melupakannya. Kita mendapatkan kepuasan sesaat dari merencanakan, namun tidak pernah benar-benar mendapatkan barangnya. Itulah jebakan “ayam esok hari” dalam bentuk digitalnya.
Dari Telur Menjadi Peternakan: Cara Kerja Prinsip Ini di Dunia Nyata
Apakah pepatah ini berarti kita harus berhenti bermimpi besar? Tentu tidak. Justru sebaliknya. Prinsip ini adalah cara paling realistis untuk mengubah mimpi besar (peternakan ayam) menjadi kenyataan. Caranya? Dengan fokus mengumpulkan satu telur setiap hari secara konsisten. Inilah strategi aksi yang sesungguhnya.
Seorang calon novelis yang terus menunggu inspirasi besar (ayam) tidak akan pernah menyelesaikan satu halaman pun. Tetapi seorang penulis yang berkomitmen untuk menulis 300 kata setiap hari (telur), mau tidak mau akan memiliki draf novel dalam setahun. Ia membangun “peternakan”-nya dengan cara mengumpulkan “telur” setiap hari tanpa henti.
Seorang yang ingin berinvestasi tapi terus menunggu “gaji besar” (ayam) mungkin tidak akan pernah memulai. Tapi orang yang menyisihkan Rp10.000 setiap hari (telur) ke dalam instrumen investasi, akan terkejut melihat efek bola salju yang mengubah kumpulan “telur”-nya menjadi aset yang signifikan setelah beberapa tahun. Ia memprioritaskan aksi nyata di atas rencana muluk.
Inti dari strategi ini adalah mengubah fokus kita dari hasil akhir yang masih jauh, ke proses harian yang bisa kita kendalikan. Jangan khawatirkan tentang membangun tembok; fokus saja untuk meletakkan satu batu bata dengan sesempurna mungkin. Lakukan itu setiap hari, dan tanpa Anda sadari, tembok itu akan berdiri dengan sendirinya.
Kapan Memilih Telur? Menjadi Seorang Visioner yang Pragmatis
Kunci dari kebijaksanaan ini adalah keseimbangan. Tentu kita perlu visi jangka panjang (ingin punya ayam, bahkan peternakan). Visi inilah yang memberi kita arah dan semangat. Namun, pepatah ini mengingatkan kita bahwa visi tanpa eksekusi harian hanyalah halusinasi. Ia adalah pengingat untuk membumikan mimpi-mimpi besar kita ke dalam tindakan-tindakan kecil yang bisa kita lakukan saat ini juga.
Setiap kali Anda dihadapkan pada sebuah tugas besar yang terasa menakutkan, tanyakan pada diri Anda: “Apa ‘telur’ paling kecil yang bisa saya dapatkan dari tugas ini dalam 15 menit ke depan?” Ingin membersihkan seluruh rumah? Mulai saja dengan merapikan meja. Ingin belajar bahasa baru? Mulai saja dengan menghafal 3 kosakata baru. Amankan kemenangan-kemenangan kecil.
Menerapkan prinsip Baidhatul yaumi khairun min dajaajatil ghadi adalah sebuah pilihan sadar untuk menjadi seorang yang pragmatis. Kita menghargai kemajuan, sekecil apa pun itu, di atas kesempurnaan yang hanya ada dalam angan-angan. Kita lebih memilih hasil nyata yang ada di tangan daripada janji indah yang masih ada di awan.
Jadi, lain kali jika Anda tergoda untuk berkata “nanti saja,” ingatlah pada telur dan ayam ini. Pilihlah kepastian dari sebuah telur hari ini. Nikmati rasa puas dari menyelesaikan sesuatu. Karena dari kumpulan telur-telur kecil inilah, peternakan ayam impian Anda pada akhirnya akan terbangun.




