الْعِلْمُ فِي الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ عَلَى الْحَجَرِ
Al-‘ilmu fish-shighari kan-naqsyi ‘alal hajari
“Ilmu di waktu kecil itu bagaikan ukiran di atas batu”
Kita semua pernah mengalaminya. Saat mencoba mempelajari bahasa baru atau keterampilan teknis di usia dewasa, kita sering bergumam, “Coba saja aku belajar ini dari kecil, pasti lebih mudah”. Kita melihat anak-anak menyerap informasi baru dengan begitu alami, dan kita menyimpulkan bahwa belajar di usia muda itu “mudah”. Namun, benarkah sesederhana itu?
Sebuah mahfuzhat kuno memberikan metafora yang sangat terkenal: Al-‘ilmu fish-shighari kan-naqsyi ‘alal hajari, yang artinya “Ilmu di waktu kecil itu bagaikan ukiran di atas batu.” Biasanya, kita hanya fokus pada hasilnya: sebuah ukiran yang permanen dan tak lekang oleh waktu. Kita membayangkan betapa hebatnya memiliki ilmu yang begitu kokoh tertanam dalam diri.
Namun, mari kita berhenti sejenak dan pikirkan prosesnya. Mengukir di atas batu, pada hakikatnya, adalah pekerjaan yang sangat sulit. Ia butuh tenaga, kesabaran luar biasa, alat yang tepat, dan waktu yang sangat lama. Sebaliknya, mengukir di atas air—sebuah metafora untuk belajar di usia dewasa—adalah pekerjaan yang mudah dan cepat, namun hasilnya langsung hilang tak berbekas.
Artikel ini akan mengajak Anda menyelami kembali makna pepatah ini melalui kacamata paradoks tersebut. Kita akan membongkar mengapa proses belajar di usia muda sesungguhnya “sulit” namun hasilnya abadi, mengapa belajar di usia dewasa terasa “mudah” namun cepat terlupakan, dan bagaimana kita bisa mengharmonikan kedua fase ini untuk menjadi pembelajar seumur hidup.
Mengukir Batu: Proses Sulit di Balik Fondasi yang Abadi
Bayangkan seorang pemahat sedang bekerja di depan sebongkah batu granit yang keras. Ia tidak bisa melakukannya dengan tergesa-gesa. Setiap pukulan palu pada pahat harus diperhitungkan. Salah sedikit, batu itu bisa retak. Dibutuhkan ratusan, bahkan ribuan ketukan yang konsisten dan telaten hanya untuk menciptakan satu lekukan kecil. Prosesnya lambat, melelahkan, dan menuntut fokus total. Inilah gambaran akurat dari proses “mengukir” ilmu dan adab ke dalam benak seorang anak.
Tugas orang tua dan guru sebagai “sang pengukir” bukanlah pekerjaan yang mudah. Mengajarkan seorang anak untuk berkata jujur, untuk berbagi, atau untuk membaca, bukanlah proses sekali jadi. Ia membutuhkan pengulangan tanpa henti, kesabaran setingkat dewa saat menghadapi tantrum, dan keteladanan yang konsisten. Proses pembentukan karakter dan pengetahuan dasar ini adalah pekerjaan yang “sulit” dan paling menguras energi.
Lalu mengapa hasilnya begitu permanen? Di sinilah keajaiban neurosains bertemu dengan hikmah kuno. Otak anak kecil ibarat semen yang masih basah. Meskipun proses “mengukir” di atasnya butuh ketelatenan, setiap jejak yang berhasil dibuat akan mengeras bersama semen itu dan menjadi bagian dari struktur fondasinya. Jalur-jalur saraf yang terbentuk di masa emas ini menjadi program dasar yang akan berjalan otomatis seumur hidup.
Jadi, ketika kita melihat seorang anak fasih berbahasa ibu atau memiliki adab yang baik, kita tidak sedang melihat hasil dari proses yang “mudah”. Kita sedang menyaksikan mahakarya yang lahir dari proses “pengukiran” yang sulit, sabar, dan penuh cinta dari orang-orang di sekitarnya. Investasi tenaga di awal ini menghasilkan sebuah fondasi yang tak ternilai harganya.
Mengukir Air: Mudah Paham, Cepat Lupa
Sekarang, mari kita beralih ke kutub seberangnya: belajar di usia dewasa, yang sering diibaratkan seperti mengukir di atas air (kan-naqsyi ‘alal maa-i). Coba bayangkan, betapa mudahnya jari Anda membuat pola di permukaan air. Tidak butuh tenaga, tidak butuh alat, prosesnya instan. Anda bisa langsung melakukannya. Inilah yang terjadi saat orang dewasa belajar sesuatu yang baru.
Berkat pengalaman dan pengetahuan yang sudah kita miliki, kita memiliki “rak-rak” referensi di dalam otak. Saat ada konsep baru, kita bisa dengan cepat menghubungkannya: “Oh, ini mirip dengan prinsip A,” atau “Ini seperti aplikasi dari teori B.” Proses pemahaman ini terasa begitu “mudah” dan cepat. Kita bisa memahami ide-ide kompleks dalam waktu singkat, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh anak-anak.
Namun, di sinilah letak jebakannya. Sama seperti ukiran di atas air, pemahaman yang didapat dengan cepat itu juga akan hilang dengan cepat. Informasi baru itu hanya menempel di permukaan pikiran kita yang sudah padat. Tanpa pengulangan dan aplikasi yang kuat, ia akan tersapu oleh arus kesibukan dan informasi lainnya. Pemahaman itu tidak sempat meresap menjadi bagian dari fondasi kita.
Ini adalah pengalaman yang sangat umum. Kita keluar dari sebuah seminar akhir pekan dengan kepala penuh ide cemerlang, merasa seperti seorang jenius. Namun pada hari Rabu, saat ditanya apa poin utamanya, kita hanya bisa samar-samar mengingat rasa kopi saat jeda istirahat. Itulah bukti nyata dari fenomena “mudah paham, mudah lupa”—keindahan sekaligus kerapuhan dari belajar di usia dewasa.
Strategi Sang Pembelajar: Menjadi Pemahat Sekaligus Peselancar
Memahami paradoks ini memberikan kita kunci strategi belajar yang efektif untuk setiap fase kehidupan. Kita tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama untuk batu dan air. Keduanya membutuhkan seni yang berbeda.
Bagi orang tua dan pendidik—para pemahat batu—strateginya adalah merangkul “kesulitan” itu dengan penuh kesadaran. Jangan berkecil hati jika prosesnya terasa lambat. Sadarilah bahwa setiap pengulangan dan setiap nasihat adalah pukulan pahat yang sedang membentuk sebuah mahakarya. Fokuslah pada konsistensi, bukan kecepatan. Ciptakan lingkungan yang positif, karena kualitas “batu” sangat bergantung pada suasana di sekitarnya.
Bagi kita, para pembelajar dewasa—para peselancar air—strateginya adalah melawan sifat fana dari air. Karena kita sudah tahu bahwa pemahaman itu mudah hilang, maka kuncinya adalah: segera praktikkan. Jangan biarkan pemahaman hanya mengendap di kepala. Segera ubah menjadi tindakan. Setelah membaca buku tentang investasi, langsung coba buka akun. Setelah menonton video masak, langsung coba resepnya. Ikatlah pengetahuan itu pada sebuah pengalaman nyata.
Ingat, kekuatan kita sebagai orang dewasa bukanlah kemampuan menghafal, melainkan kemampuan mengontekstualisasikan dan mengaplikasikan. Belajar bagi kita bukanlah tentang mengisi gelas yang kosong, melainkan tentang menyalakan api dengan pengetahuan yang sudah ada. Pengulangan dan praktik adalah cara kita menjaga api itu agar tidak padam.
Harmoni Batu dan Air: Mensyukuri Setiap Anugerah Belajar
Pada akhirnya, tidak ada fase yang lebih baik dari yang lain. Keduanya adalah anugerah dengan karakteristiknya masing-masing. Masa kecil adalah anugerah fondasi yang kokoh, yang dibangun melalui proses yang “sulit”. Masa dewasa adalah anugerah pemahaman yang cepat, yang harus dijaga dengan proses pengulangan yang “sulit”. Ternyata, kata kunci untuk hasil yang baik di setiap usia tetap sama: butuh proses dan usaha.
Mahfuzhat ini menjadi pengingat bagi kita untuk tidak menyesali masa lalu, tetapi untuk mengoptimalkan masa sekarang. Bagi yang masih muda atau yang sedang mendidik anak kecil, manfaatkanlah jendela emas ini. Rangkullah proses “pengukiran” yang melelahkan itu, karena Anda sedang membangun sesuatu untuk keabadian.
Bagi kita yang sudah dewasa, berhentilah membandingkan diri dengan anak-anak. Syukuri kemudahan kita dalam menangkap ide-ide besar. Jadikan belajar sebagai sebuah petualangan yang menyenangkan, dan sadari bahwa tugas kita adalah terus-menerus “mengukir” di atas air, menjaga pikiran kita tetap fleksibel, tajam, dan mengalir seperti air itu sendiri.
Fondasi yang kokoh seperti batu dan kemampuan beradaptasi yang luwes seperti air, bukankah itu kombinasi ideal dari seorang manusia pembelajar? Dengan memahami paradoks ini, kita tidak hanya belajar tentang ilmu, tetapi juga belajar tentang kebijaksanaan dalam menjalani setiap fase kehidupan.




