لَا تُؤَخِّرْ عَمَلَكَ إِلَى الْغَدِ مَا تَقْدِرُ أَنْ تَعْمَلَهُ الْيَوْمَ
Laa tu-akkhir ‘amalaka ilal ghadi ma taqdiru an ta’malahul yauma
“Jangan tunda pekerjaanmu hingga esok hari, apa yang bisa engkau kerjakan hari ini“
Kita sering memperlakukan waktu seperti sebuah kanvas kosong yang identik setiap harinya. Kita melihat “hari ini” dan “hari esok” sebagai dua wadah kosong, di mana sebuah tugas bisa dipindahkan dari satu wadah ke wadah lain tanpa mengubah isinya. Namun, bagaimana jika setiap hari bukanlah wadah kosong, melainkan sebuah medan energi yang memiliki ritme dan frekuensinya sendiri?
Sebuah mahfuzhat kuno, Laa tu-akkhir ‘amalaka ilal ghadi ma taqdiru an ta’malahul yauma, menyimpan kebijaksanaan yang jauh lebih dalam dari sekadar nasihat produktivitas. Artinya, “Jangan tunda pekerjaanmu hingga esok hari, apa yang bisa engkau kerjakan hari ini.” Ini bukan tentang bekerja lebih keras, melainkan tentang bekerja lebih selaras. Ia mengajarkan bahwa energi hari ini secara alamiah paling cocok untuk menyelesaikan tugas hari ini.
Menunda, dalam perspektif ini, bukanlah sekadar mengubah jadwal. Itu adalah tindakan yang merusak harmoni. Ini seperti mencoba memainkan musik orkestra hari Rabu dengan partitur milik hari Selasa—nadanya akan terdengar sumbang dan kacau. Kunci untuk memahami nasihat ini terletak pada dua pilar: mengenali energi unik setiap hari dan memahami batasan bijak dari frasa “apa yang bisa engkau kerjakan”.
Artikel ini adalah panduan Anda untuk menjadi seorang maestro yang mampu menyelaraskan diri dengan ritme waktu. Kita akan menjelajahi konsep “energi harian”, bagaimana ia berjodoh dengan tugas-tugas spesifik, dan bagaimana pemahaman utuh terhadap mahfuzhat ini justru membebaskan kita dari rasa bersalah yang tidak perlu.
‘Energi Hari Ini’: Mengenali Modalitas Unik Setiap Hari
Setiap hari yang kita jalani memiliki “sidik jari” energinya sendiri. “Energi Hari Ini” bukanlah sekadar perasaan bersemangat atau lelah secara fisik. Ia adalah sebuah kombinasi kompleks dari:
- Konteks Mental: Apa yang baru saja terjadi kemarin? Rapat apa yang baru saja Anda lalui? Data apa yang masih segar di ingatan Anda?
- Kondisi Emosional: Bagaimana suasana hati Anda pagi ini? Apakah Anda merasa optimis, cemas, atau tenang?
- Ritme Biologis: Kapan jam-jam puncak fokus Anda? Kapan energi Anda secara alami menurun?
- Agenda Lingkungan: Apa yang sedang terjadi di sekitar Anda? Apa prioritas tim Anda hari ini?
Kombinasi unik inilah yang menciptakan sebuah “medan energi” yang paling subur untuk mengerjakan tugas-tugas yang memang dirancang untuk hari ini. Menelepon klien A mungkin terasa paling pas hari ini karena percakapan kemarin masih hangat di benak Anda. Menganalisis data B paling ideal hari ini karena pikiran Anda sedang dalam mode kritis setelah melihat laporan pagi ini.
‘Tugas Hari Ini’: Pasangan Sempurna yang Tak Seharusnya Dipisahkan
Jika setiap hari memiliki energinya sendiri, maka setiap tugas yang dijadwalkan untuk hari itu adalah pasangan jiwanya. Mereka diciptakan untuk satu sama lain. Melakukan “tugas hari ini” dengan “energi hari ini” terasa seperti mengayuh perahu searah dengan arus sungai—ringan, efisien, dan mengalir.
Saat kita menunda sebuah tugas, kita secara paksa memisahkan pasangan yang serasi ini. Kita mengambil “tugas Selasa” dan mencoba menjodohkannya dengan “energi Rabu”. Apa yang terjadi? Terciptalah sebuah “utang energi”. Tugas itu tidak datang sendirian ke hari Rabu; ia membawa sisa-sisa “lumpur energi” dari hari Selasa, mengotori kanvas bersih yang seharusnya tersedia untuk tugas-tugas hari Rabu.
Inilah mengapa pekerjaan yang ditunda seringkali terasa jauh lebih berat. Bukan karena tugasnya menjadi lebih sulit, tetapi karena kita mengerjakannya dalam kondisi energi yang sudah tidak lagi selaras. Kita harus mengeluarkan tenaga ekstra hanya untuk melawan arus. Kita kehilangan momentum alamiah yang seharusnya membantu kita.
Dengan menghormati pasangan “tugas hari ini” dan “energi hari ini”, kita menjaga alur kerja kita tetap jernih. Kita memberikan setiap hari kesempatan untuk berhasil dengan caranya sendiri, tanpa dibebani oleh kekacauan dari hari-hari sebelumnya.
Klarifikasi Kunci: “…Apa yang Bisa Kau Kerjakan Hari Ini”
Di sinilah letak kebijaksanaan tertinggi dari mahfuzhat ini, yang seringkali terlewatkan. Perintah untuk tidak menunda secara eksplisit dibatasi oleh frasa ma taqdiru an ta’malahul yauma—”apa yang engkau mampu (bisa) kerjakan hari ini.” Ini adalah sebuah klausa pembebas yang sangat penting.
Mahfuzhat ini tidak sedang memerintahkan kita untuk melakukan hal yang mustahil. Ia sedang melatih kita untuk jujur dan mampu membedakan antara dua kondisi:
- “Tidak Bisa”: Ini adalah kondisi di mana sebuah tugas secara objektif tidak dapat diselesaikan hari ini karena adanya kendala eksternal. Contoh: Anda membutuhkan data dari departemen lain yang baru akan diberikan besok; Anda menunggu balasan email penting untuk bisa melangkah; tugas tersebut memang dijadwalkan untuk dibahas dalam rapat lusa. Menunda tugas-tugas ini bukanlah prokrastinasi, melainkan penjadwalan yang cerdas dan realistis.
- “Tidak Mau”: Ini adalah kondisi di mana kita sebenarnya memiliki semua sumber daya (waktu, informasi, kemampuan) untuk mengerjakan tugas itu hari ini, tetapi kita menghindarinya karena alasan internal. Contoh: tugas itu terasa sulit, membosankan, atau menakutkan. Inilah penundaan (prokrastinasi) yang sesungguhnya, yang menjadi target dari nasihat ini.
Pemahaman ini membebaskan kita dari rasa bersalah yang tidak perlu. Tujuannya bukanlah untuk mengosongkan seluruh daftar tugas secara membabi buta, melainkan untuk menyelesaikan semua hal yang secara wajar berada dalam jangkauan kapasitas dan kendali kita pada hari ini.
Seni Menyelaraskan Diri: Menjadi Master Ritme Waktu Anda
Menghidupi prinsip ini berarti beralih dari mentalitas “manajer tugas” menjadi “penyelaras energi”. Tujuannya adalah harmoni, bukan sekadar efisiensi.
Pertama, mulailah hari dengan “Dialog Energi”. Sebelum terjun ke pekerjaan, luangkan lima menit untuk bertanya pada diri sendiri: “Bagaimana ‘cuaca energi’-ku hari ini? Apakah cerah dan bersemangat, atau sedikit mendung dan butuh pemanasan?” Kesadaran ini membantu Anda untuk tidak memaksakan diri, melainkan bekerja bersama aliran energi Anda.
Kedua, praktikkan “Penjodohan Tugas”. Lihat daftar tugas Anda. Jodohkan tugas yang butuh energi kreatif tinggi dengan jam-jam puncak Anda. Jodohkan tugas administratif yang lebih ringan dengan jam-jam saat energi Anda mulai menurun. Ini adalah seni menempatkan tugas yang tepat pada gelombang energi yang tepat.
Terakhir, di penghujung hari, lakukan “Evaluasi Jujur”. Lihat tugas apa yang tersisa. Tanyakan: “Apakah ini tersisa karena aku ‘tidak bisa’ atau karena aku ‘tidak mau’?” Jika karena ‘tidak bisa’, jadwalkan ulang untuk besok dengan tenang. Jika karena ‘tidak mau’, akuilah itu tanpa menghakimi, dan berkomitmenlah untuk menjadikannya prioritas utama saat energi besok pagi sedang segar.
Dengan demikian, “Energi Hari Ini untuk Tugas Hari Ini” bukanlah slogan untuk bekerja tanpa henti. Ia adalah sebuah undangan untuk hidup lebih sadar, bekerja lebih cerdas, dan bergerak selaras dengan ritme alamiah kehidupan, membebaskan hari esok untuk datang dengan potensi dan energinya sendiri yang baru.




