Mulutmu Harimaumu, Jarimu Bumerangmu

Mulutmu Harimaumu, Jarimu Bumerangmu

سَلَامَةُ الْإِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ

Salaamatul insaani fii hifzhil lisaani

“Keselamatan seorang manusia terletak pada kemampuannya menjaga lisan”

 

Di era digital, setiap dari kita diberikan sebuah megafon global. Pikiran yang terlintas di kepala bisa disiarkan ke seluruh dunia dalam hitungan detik melalui status media sosial. Perasaan frustrasi sesaat bisa diabadikan selamanya dalam kolom komentar. Kita menjadi generasi yang paling banyak “berbicara”, namun mungkin juga yang paling rentan terluka oleh ucapan—baik ucapan orang lain maupun ucapan kita sendiri.

Di tengah kebisingan dan risiko ini, sebuah mahfuzhat kuno hadir sebagai sebuah prinsip pertahanan diri yang sangat fundamental. Ia tidak mengajarkan cara menyerang balik, melainkan cara membangun benteng dari dalam. Pepatah itu berbunyi: Salaamatul insaani fii hifzhil lisaani. Terjemahannya adalah: “Keselamatan seorang manusia terletak pada kemampuannya menjaga lisan.”

Nasihat ini jauh melampaui sekadar anjuran untuk bersikap sopan. Ia adalah sebuah tesis tentang manajemen risiko. Ia menyatakan bahwa sumber bahaya terbesar bagi reputasi, hubungan, dan bahkan ketenangan batin kita, seringkali bukanlah faktor eksternal, melainkan kata-kata yang keluar dari mulut—dan kini, dari ujung jari—kita sendiri.

Artikel ini akan menjadi panduan Anda untuk membangun “benteng lisan” di zaman modern. Kita akan mendefinisikan ulang apa itu “lisan” di era digital, memetakan spektrum “keselamatan” yang ia lindungi, dan melatih seni “menjaga” sebagai keterampilan bertahan hidup yang paling krusial di abad ke-21.

 

Redefinisi ‘Lisan’: Dari Lidah Fisik ke Jejak Digital Abadi

Secara tradisional, “menjaga lisan” berarti mengendalikan lidah fisik kita. Ini tentang tidak bergosip, tidak memfitnah, tidak mencaci maki, atau mengucapkan kata-kata yang menyakitkan saat bertatap muka. Bahaya dari lisan fisik ini, meskipun besar, seringkali terbatas oleh ruang dan waktu. Kata-kata bisa dilupakan, disangkal, atau hilang ditelan angin.

Namun, di era modern, “lisan” telah berevolusi menjadi sebuah entitas hibrida yang jauh lebih kuat dan berbahaya. “Lisan” kita hari ini tidak hanya mencakup apa yang kita ucapkan, tetapi juga setiap status yang kita tulis, setiap komentar yang kita ketik, setiap email yang kita kirim, setiap tweet yang kita lontarkan, bahkan setiap “like” dan “share” yang kita berikan. Setiap interaksi digital adalah perpanjangan dari lisan kita.

Perbedaan paling fundamental antara lisan fisik dan lisan digital adalah keabadian. Apa yang diucapkan di warung kopi mungkin akan dilupakan esok hari. Tetapi apa yang diketik di kolom komentar Facebook pada tahun 2015 bisa ditemukan kembali sepuluh tahun kemudian melalui sebuah tangkapan layar. Lisan digital kita menciptakan jejak yang permanen, sebuah “tato digital” yang akan melekat pada citra diri kita selamanya.

Ketika kita menyadari bahwa setiap ketikan kita adalah sebuah pahatan di monumen digital diri kita, kita akan mulai memahami betapa tingginya taruhan dari “menjaga lisan” di zaman sekarang. Kita tidak sedang berbicara, kita sedang membangun warisan digital kita, kata demi kata.

 

Spektrum ‘Keselamatan’: Jaring Pengaman dari Berbagai Bahaya

Lalu, “keselamatan” seperti apa yang dijanjikan oleh kemampuan menjaga lisan ini? Maknanya sangat luas, mencakup jaring pengaman dari berbagai bahaya modern yang sangat nyata. Pertama dan yang paling jelas adalah keselamatan reputasi dan karier. Di era cancel culture, satu komentar ceroboh, satu unggahan lama yang bernada buruk, atau satu email yang dikirim dalam keadaan emosi bisa menghancurkan karier yang dibangun bertahun-tahun. Menjaga lisan digital adalah keterampilan bertahan hidup profesional.

Kedua, ia memberikan keselamatan hubungan. Seberapa sering sebuah hubungan persahabatan atau keluarga retak hanya karena kesalahpahaman dari sebuah pesan teks yang bernada dingin atau komentar sarkastik di media sosial? Kata-kata yang tidak diucapkan dengan hati-hati dapat menciptakan luka batin yang jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik. Menjaga lisan berarti menjaga kesehatan dan keutuhan lingkaran sosial kita.

Ketiga, dan ini yang sering kita lupakan, ia memberikan keselamatan batin. Saat kita terbiasa mengucapkan atau menulis hal-hal yang negatif—mengeluh, mengkritik, berdebat sengit—kita tidak hanya meracuni orang lain, kita juga sedang meracuni pikiran kita sendiri. Setiap kata negatif yang kita lontarkan akan meninggalkan residu berupa kemarahan, kegelisahan, dan stres di dalam diri kita. Menjaga lisan adalah sebuah tindakan detoksifikasi mental.

Dengan demikian, “keselamatan” di sini adalah sebuah kondisi yang holistik. Ia melindungi citra publik kita dari kehancuran, melindungi hubungan kita dari keretakan, dan melindungi kedamaian batin kita dari polusi yang kita ciptakan sendiri.

 

Seni ‘Menjaga’: Disiplin Aktif, Bukan Sekadar Diam

Kata kunci dalam mahfuzhat ini adalah hifzh (menjaga), yang menyiratkan sebuah tindakan aktif, bukan pasif. Menjaga lisan bukan berarti menjadi pendiam atau tidak punya pendapat. Ia adalah tentang menjadi seorang penjaga gerbang yang bijaksana bagi pikiran dan mulut (atau keyboard) kita. Ia adalah disiplin untuk menyaring apa yang akan kita keluarkan ke dunia.

Salah satu filter terbaik yang bisa kita gunakan adalah “Filter Tiga Lapis” yang sering dinisbatkan kepada Socrates. Sebelum berbicara atau mengetik, berhentilah sejenak dan tanyakan tiga hal pada diri sendiri: Pertama, apakah ini benar? (Menghindari hoaks dan fitnah). Kedua, apakah ini baik/bermanfaat? (Menghindari gosip dan keluhan yang tidak perlu). Ketiga, apakah ini perlu diucapkan? (Menghindari komentar yang hanya menambah kebisingan).

Kekuatan terbesar dalam seni menjaga lisan terletak pada jeda. Di dunia digital yang serba instan, ada dorongan kuat untuk bereaksi secepat mungkin. Menjaga lisan berarti secara sadar menciptakan sebuah jeda—satu tarikan napas dalam—antara stimulus (misalnya, komentar yang memancing amarah) dan respons kita. Dalam jeda singkat inilah, kebijaksanaan memiliki kesempatan untuk muncul dan mengalahkan emosi impulsif.

Pada akhirnya, menjaga lisan adalah tentang meluruskan niat. Tanyakan pada diri sendiri: “Apa tujuan saya mengatakan atau menulis ini? Apakah untuk membangun, atau untuk merusak? Untuk mengklarifikasi, atau untuk memprovokasi?” Ketika lisan kita dipandu oleh niat yang baik, kata-kata yang keluar secara alami akan menjadi lebih terukur dan membawa keselamatan, bukan bencana.

 

Latihan di ‘Gym’ Kehidupan: Membangun Otot Pengendalian Lisan

Kemampuan menjaga lisan bukanlah bakat bawaan, melainkan sebuah otot yang harus dilatih secara konsisten. Sama seperti kita pergi ke gym untuk melatih tubuh, kita perlu melakukan latihan harian untuk memperkuat “otot pengendalian lisan” kita.

Latihan pertama dan paling fundamental adalah berlatih mendengar lebih banyak. Semakin kita fokus untuk memahami orang lain, semakin sedikit waktu dan keinginan kita untuk mengucapkan kata-kata yang tidak perlu atau menghakimi. Orang yang paling bijaksana seringkali adalah pendengar terbaik di dalam sebuah ruangan.

Latihan kedua adalah berlatih apresiasi. Alih-alih melatih mata (dan lisan) kita untuk mencari-cari kesalahan orang lain untuk dikomentari, latihlah diri Anda untuk secara aktif mencari hal-hal baik untuk dipuji. Ucapkan terima kasih lebih sering. Berikan pujian yang tulus. Ini akan memprogram ulang “pengaturan default” lisan kita dari mode kritik ke mode apresiasi.

Pada akhirnya, di zaman di mana kata-kata kita bisa menjadi senjata pemusnah massal atau alat penyembuh yang dahsyat, mahfuzhat ini menjadi lebih relevan dari sebelumnya. Menjaga lisan bukan lagi sekadar anjuran moral, melainkan sebuah strategi cerdas untuk menavigasi dunia yang kompleks. Ia adalah bentuk tertinggi dari pertahanan diri dan, pada saat yang sama, bentuk termulia dari kepedulian terhadap orang lain.

Copyright © 2026 Mahfuzhat