لَيْسَ الْيَتِيْمُ الَّذِي قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ، بَلْ الْيَتِيْمُ يَتِيْمُ الْعِلْمِ وَالْأَدَبِ
Laisal yatiimu alladzii qad maata waaliduhu, balil yatiimu yatiimul ‘ilmi wal adabi
“Yatim itu bukanlah orang yang ayahnya telah meninggal, tetapi (sesungguhnya) yatim itu adalah yatim ilmu dan adab”
Dalam kamus kemanusiaan kita, kata “yatim” memiliki tempat yang istimewa. Ia secara universal membangkitkan rasa iba, simpati, dan keinginan untuk melindungi. Kita memahaminya sebagai kondisi seorang anak yang telah kehilangan orang tua, sang pelindung dan penopang utama dalam hidup. Kehilangan ini adalah sebuah tragedi yang tak terbantahkan, sebuah luka yang membekas seumur hidup.
Namun, di tengah pemahaman yang sudah mapan ini, sebuah mahfuzhat datang dengan sebuah pernyataan yang berani dan mengguncang. Ia memaksa kita untuk melihat konsep “yatim” dari dimensi yang sama sekali berbeda. Pepatah itu berbunyi: Laisal yatiimu alladzii qad maata waaliduhu, balil yatiimu yatiimul ‘ilmi wal adabi.
Terjemahannya sungguh mengejutkan: “Bukanlah yatim itu orang yang telah meninggal ayahnya, tetapi (sesungguhnya) yatim itu adalah yatim ilmu dan adab.” Pernyataan ini pada awalnya bisa terasa janggal, bahkan mungkin sedikit menyinggung. Bagaimana mungkin kehilangan ilmu dan adab bisa disejajarkan—bahkan dianggap lebih parah—daripada kehilangan orang tua yang kita cintai?
Artikel ini akan menjadi pemandu Anda untuk membongkar kebijaksanaan di balik pernyataan yang provokatif ini. Kita akan menjelajahi mengapa ketiadaan ilmu dan adab menciptakan sebuah bentuk “keyatiman” yang lebih dalam dan berbahaya, serta menemukan relevansinya yang sangat tajam di era modern yang kaya informasi namun seringkali miskin hikmah dan budi pekerti.
Redefinisi “Yatim”: Dari Ketiadaan Figur ke Ketiadaan Pemandu
Penting untuk dipahami, mahfuzhat ini sama sekali tidak mengecilkan penderitaan seorang anak yang kehilangan orang tuanya. Ia menggunakan sebuah teknik retorika yang kuat untuk menekankan sebuah poin yang lebih krusial. Ia tidak berkata, “Kehilangan orang tua itu tidak seberapa,” melainkan berkata, “Ada sebuah kehilangan lain yang dampaknya bisa lebih menghancurkan masa depan seseorang.”
Apa peran fundamental seorang orang tua? Mereka adalah pemandu pertama dan utama dalam hidup. Mereka memberikan peta (ilmu) untuk memahami dunia dan kompas (adab) untuk berinteraksi di dalamnya. Mereka melindungi kita dari bahaya, mengajari kita mana yang benar dan salah, dan membekali kita dengan keterampilan dasar untuk bertahan hidup. Kehilangan mereka berarti kehilangan pemandu utama ini.
Sekarang, mari kita lihat peran ilmu dan adab. Ilmu berfungsi persis seperti peta. Ia menunjukkan kepada kita realitas dunia, hukum alam, sejarah, dan potensi masa depan. Tanpa ilmu, kita akan tersesat, tidak bisa membedakan antara peluang dan bahaya, serta rentan dieksploitasi. Sementara adab (budi pekerti, etika) berfungsi sebagai kompas. Ia memberi kita arah moral, mengajarkan cara berhubungan dengan orang lain, membangun kepercayaan, dan menciptakan harmoni. Tanpa adab, kita akan terus-menerus menabrak “karang sosial” dan terasing dari lingkungan.
Jadi, “yatim ilmu dan adab” adalah kondisi di mana seseorang, meskipun mungkin masih memiliki orang tua secara biologis, tidak pernah dibekali dengan peta dan kompas kehidupan. Ia dibiarkan tumbuh liar tanpa panduan, terombang-ambing di tengah samudra kehidupan yang ganas. Inilah bentuk keterasingan dan kerentanan yang sesungguhnya.
Kemiskinan Ilmu: Tersesat di Tengah Belantara Informasi
Di zaman sekarang, menjadi “yatim ilmu” adalah sebuah paradoks yang tragis. Kita hidup di era informasi yang paling melimpah sepanjang sejarah. Namun, melimpahnya informasi tidak secara otomatis berarti melimpahnya ilmu atau pemahaman. Seseorang bisa memiliki akses internet super cepat, tetapi jika ia tidak memiliki fondasi ilmu dan kemampuan berpikir kritis, ia justru menjadi lebih rentan.
Seorang “yatim ilmu” adalah sasaran empuk bagi hoaks, penipuan, dan teori konspirasi. Ia tidak mampu menyaring informasi, membedakan fakta dari opini, atau mengenali argumen yang sesat. Ia seperti seorang anak kecil yang dilepaskan di sebuah mal raksasa: semua terlihat menarik dan benar, dan ia bisa dengan mudah diculik oleh “orang asing” yang menawarkan permen (informasi yang terdengar manis tapi beracun).
Seorang anak yang kehilangan orang tua namun mendapatkan akses pendidikan yang baik memiliki harapan cerah. Ilmu menjadi “orang tua pengganti” yang memberinya alat untuk membangun masa depannya sendiri. Namun sebaliknya, seorang anak yang memiliki orang tua lengkap tetapi akses ilmunya terabaikan, ia dibiarkan tanpa alat apa pun. Ia mungkin diberi makan dan pakaian, tetapi jiwanya dibiarkan kelaparan dan telanjang di hadapan kerasnya dunia.
Inilah kemiskinan yang sesungguhnya: bukan tidak punya uang, tetapi tidak punya pemahaman. Karena dengan pemahaman, seseorang bisa mencari jalan keluar dari kemiskinan materi. Tetapi tanpa pemahaman, ia akan tetap miskin meskipun dikelilingi oleh kekayaan informasi.
Krisis Adab: Terhubung Secara Digital, Terasing Secara Sosial
Jika “yatim ilmu” adalah tragedi intelektual, maka “yatim adab” adalah tragedi sosial. Dan krisis ini terasa semakin nyata di dunia yang didominasi oleh interaksi digital. Kita memiliki ribuan “teman” di media sosial, tetapi seringkali kita lupa cara berbicara dengan hormat kepada orang yang duduk di sebelah kita.
Seorang “yatim adab” adalah pribadi yang brilian secara akademis tetapi gagal dalam interaksi manusia. Ia mungkin seorang programmer jenius, tetapi tidak ada yang mau bekerja dalam timnya karena ia arogan dan tidak bisa menerima kritik. Ia mungkin seorang analis yang tajam, tetapi ia menyakiti perasaan semua orang dengan kata-katanya yang kasar. Ilmunya yang luas menjadi tidak berguna karena “wadah”-nya, yaitu karakternya, bocor di mana-mana.
Di zaman sekarang, kita begitu canggih menciptakan fitur autocorrect untuk memperbaiki kesalahan ketik kita, namun kita sangat membutuhkan “fitur adab” yang bisa mengingatkan kita sebelum mengirim komentar jahat atau menyebarkan kebencian. Itulah gejala dari “keyatiman adab” kolektif kita.
Pada akhirnya, adab adalah pelumas yang membuat roda masyarakat berputar dengan lancar. Tanpa rasa hormat, empati, dan integritas, masyarakat akan dipenuhi oleh gesekan dan konflik. Seseorang yang “yatim adab” mungkin tidak akan kelaparan secara fisik, tetapi ia akan mengalami kelaparan sosial—sebuah kesepian yang mendalam karena tidak mampu membangun hubungan yang tulus dan sehat dengan sesama manusia.
Mengadopsi Diri Sendiri: Menjadi Orang Tua bagi Pikiran dan Akhlak
Pesan akhir dari mahfuzhat ini bukanlah untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk memberdayakan kita. Ia memberitahu kita bahwa meskipun kehilangan orang tua biologis adalah takdir yang tidak bisa kita pilih, menjadi “yatim ilmu dan adab” adalah sebuah kondisi yang bisa kita ubah. Kita memiliki kekuatan untuk “mengadopsi” diri kita sendiri.
“Mengadopsi” pikiran kita berarti mengambil tanggung jawab penuh atas pendidikan diri. Jangan pernah berhenti belajar. Bacalah buku, ikuti kursus, carilah mentor, dan peliharalah rasa ingin tahu seperti seorang anak kecil. Jadilah “orang tua” yang tegas bagi pikiran Anda, yang menyaring informasi sampah dan hanya memberinya nutrisi pengetahuan yang sehat.
“Mengadopsi” akhlak kita berarti secara sadar melatih budi pekerti kita setiap hari. Latihlah diri untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Praktikkan empati dengan mencoba melihat dari sudut pandang orang lain. Ucapkan “tolong”, “terima kasih”, dan “maaf” dengan tulus. Jadilah “orang tua” yang bijaksana bagi karakter Anda, yang membentuknya dengan disiplin dan kelembutan.
Dengan demikian, mahfuzhat ini adalah sebuah panggilan untuk kemandirian sejati. Ia mengajak kita untuk memastikan bahwa kita tidak pernah benar-benar “yatim” di dunia ini, karena kita selalu bisa berada di bawah asuhan dua “orang tua” abadi yang tidak akan pernah meninggalkan kita: ilmu yang mencerahkan dan adab yang memuliakan.




