الْعِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ
Al-‘ilmu bilaa ‘amalin kasy-syajari bilaa tsamarin
“Ilmu tanpa diamalkan itu bagaikan pohon tak berbuah”
Di era informasi ini, kita adalah generasi yang paling berpengetahuan dalam sejarah. Hanya dengan beberapa ketukan jari, kita bisa mengakses perpustakaan dunia, menonton tutorial dari para ahli, dan membaca ringkasan dari buku-buku terbaik. Kita mengoleksi e-book, menyimpan tautan video inspiratif, dan mengikuti puluhan akun edukasi. Secara teori, kita seharusnya menjadi generasi yang paling bijaksana dan paling berdaya.
Namun, seringkali ada jurang yang menganga antara apa yang kita tahu dan apa yang kita lakukan. Kita tahu resep makanan sehat, tapi tetap memesan makanan cepat saji. Kita membaca buku tentang manajemen waktu, tapi pekerjaan tetap saja menumpuk. Kita seolah menjadi perpustakaan berjalan yang megah, namun kehidupan kita tidak banyak berubah. Inilah sebuah kondisi yang telah diidentifikasi oleh sebuah mahfuzhat sejak ratusan tahun lalu.
Pepatah itu berbunyi, Al-‘ilmu bilaa ‘amalin kasy-syajari bilaa tsamarin. Terjemahannya begitu indah dan tepat sasaran: “Ilmu tanpa diamalkan itu bagaikan pohon tak berbuah.” Metafora ini tidak mengatakan bahwa ilmu itu tidak penting. Ia justru membandingkannya dengan sesuatu yang agung dan hidup—sebuah pohon. Namun, ia mengingatkan kita bahwa sebuah pohon yang paling rindang sekalipun akan dianggap gagal jika ia tidak memenuhi tujuan utamanya: menghasilkan buah.
Artikel ini akan menjadi panduan Anda untuk mendiagnosis “sindrom pohon tak berbuah” dalam diri kita. Kita akan menjelajahi mengapa pengetahuan tanpa tindakan bukan hanya sia-sia, tetapi bisa menjadi beban. Kita juga akan merumuskan langkah-langkah praktis untuk mengubah “pohon” pengetahuan kita menjadi kebun yang subur dan bermanfaat bagi kehidupan.
Diagnosis “Pohon Tak Berbuah”: Mengapa Kita Gemar Mengoleksi Ilmu?
Pertama-tama, mari kita akui bahwa mengoleksi pengetahuan itu terasa sangat menyenangkan. Saat kita berhasil memahami sebuah konsep baru atau membaca sebuah buku yang mencerahkan, ada lonjakan dopamin yang memberi kita rasa puas. Kita merasa pintar, produktif, dan selangkah lebih maju. Masalahnya, otak kita seringkali tidak bisa membedakan antara sensasi kemajuan ini dengan kemajuan yang sesungguhnya.
Pohon ilmu yang kita tanam di dalam benak kita memang terlihat indah. Daunnya yang lebat (pengetahuan yang luas) bisa memberikan keteduhan (rasa percaya diri) dan membuat kita menjadi teman diskusi yang menarik. Namun, mahfuzhat ini mengingatkan kita untuk bertanya: apa tujuan akhir dari semua ini? Jika sebuah pohon hanya dinilai dari kerindangan daunnya, maka ia tak lebih dari sebuah hiasan. Tujuan sejatinya adalah menghasilkan “buah” (amal) yang bisa menyehatkan diri sendiri dan orang lain.
Terkadang, kita menumbuhkan pohon ilmu ini karena didorong oleh ego. Kita menggunakan pengetahuan sebagai perisai untuk merasa aman atau sebagai senjata untuk memenangkan perdebatan. Kita gemar mengutip para ahli dan melemparkan data, bukan untuk mencari solusi, melainkan untuk membuktikan bahwa kita benar. Dalam kondisi ini, ilmu tidak lagi menjadi sumber hikmah, melainkan hanya menjadi ornamen untuk memoles citra diri.
Koleksi e-book di laptop kita seringkali lebih tebal daripada bantal yang kita tiduri. Namun, yang benar-benar membuat kita bisa tidur nyenyak bukanlah seribu judul yang tersimpan, melainkan satu paragraf yang berhasil kita praktikkan dan mengubah hari kita menjadi lebih baik. Inilah jebakan kolektor di era digital: kita lebih sibuk mengisi gudang daripada memanfaatkan isinya.
Beban Pengetahuan: Saat Ilmu Justru Menjadi Penghalang
Ada sebuah gagasan yang terdengar aneh namun sangat benar: terlalu banyak tahu tanpa bertindak justru bisa berbahaya. Ia bisa menjadi beban yang menghalangi kita untuk bergerak. Fenomena ini sering disebut Analysis Paralysis atau kelumpuhan akibat terlalu banyak menganalisis. Semakin banyak pilihan atau metode yang kita ketahui, semakin bingung kita untuk memulai.
Bayangkan Anda ingin memulai sebuah bisnis kecil. Jika Anda hanya tahu satu cara, Anda akan langsung mencobanya. Tapi jika Anda sudah membaca 20 buku bisnis dan mengetahui 100 strategi berbeda, Anda mungkin akan menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk membandingkan mana strategi “terbaik”, dan akhirnya tidak pernah memulai sama sekali. Ranting-ranting pohon pengetahuan Anda menjadi terlalu rimbun, menghalangi cahaya matahari untuk masuk dan menumbuhkan buah.
Selain itu, ilmu yang tidak diamalkan bisa berubah menjadi sumber kecemasan dan rasa bersalah. Kita tahu bahwa kita seharusnya lebih sabar kepada anak-anak. Kita tahu kita seharusnya menabung. Ketika kita gagal melakukannya, pengetahuan itu berbalik menyerang kita. Ia menjadi hakim internal yang terus-menerus mengingatkan kita akan kegagalan kita. Ilmu yang seharusnya menjadi cahaya, justru menjadi bayangan gelap yang menghantui.
Pohon yang tak berbuah juga bisa menjadi sombong. Ia merasa dirinya besar, rindang, dan lebih unggul daripada tanaman-tanaman kecil di sekitarnya yang mungkin hanya menghasilkan beberapa buah beri. Ini adalah cerminan dari arogansi intelektual, di mana seseorang lebih menghargai teori yang rumit daripada praktik sederhana yang membawa hasil nyata. Ia lupa bahwa tujuan sebuah peta (ilmu) adalah untuk memandu sebuah perjalanan (amal), bukan untuk dilipat dan disimpan di dalam laci.
Apa Sebenarnya “Buah” Itu? Mendefinisikan Ulang Makna “Amal”
Lalu, apa sebenarnya “buah” atau “amal” yang dimaksud? Amal tidak selalu berarti sebuah proyek raksasa atau tindakan heroik yang mengubah dunia. “Buah” adalah manifestasi nyata dari ilmu, sekecil apa pun itu. Ia adalah titik di mana pengetahuan keluar dari alam pikiran dan masuk ke dalam alam kenyataan.
Jika Anda belajar ilmu tentang komunikasi, “buah”-nya adalah satu percakapan sulit yang berhasil Anda lalui dengan empati, bukan puluhan buku yang Anda baca. Jika Anda mempelajari ilmu agama tentang kebersihan, “buah”-nya adalah sampah yang Anda pungut dan buang pada tempatnya. Jika Anda menonton video tentang postur tubuh yang baik, “buah”-nya adalah keputusan sadar untuk duduk lebih tegak saat itu juga. Buah adalah tindakan.
Lebih jauh lagi, tujuan utama buah adalah untuk memberi nutrisi, baik untuk diri sendiri maupun untuk makhluk lain. Ilmu yang Anda amalkan akan membawa manfaat yang melampaui diri Anda. Pengetahuan seorang arsitek tidak ada artinya sampai ia menjadi sebuah rumah yang menaungi sebuah keluarga. Pengetahuan seorang koki tidak terasa sampai ia menjadi hidangan lezat yang dinikmati orang lain. Buah dari ilmu adalah kebermanfaatan.
Dan “buah” yang paling esensial adalah transformasi internal. Ketika kita secara konsisten mengamalkan apa yang kita pelajari, karakter kita akan terbentuk. Kita tidak lagi hanya tahu tentang kesabaran, kita menjadi orang yang sabar. Kita tidak lagi hanya tahu tentang disiplin, kita menjadi pribadi yang disiplin. Inilah tujuan tertinggi dari ilmu: bukan untuk mengisi kepala kita, tetapi untuk membentuk jiwa kita.
Dari Pohon Menjadi Kebun: Langkah Praktis untuk Mulai Berbuah
Bagaimana cara kita agar tidak terjebak dalam sindrom ini? Kuncinya bukan dengan berhenti belajar, tetapi dengan mengubah rasio antara belajar dan bertindak. Mulailah melihat ilmu bukan sebagai koleksi, tetapi sebagai resep yang harus segera dicoba di dapur kehidupan.
Pertama, terapkan “Aturan Satu”. Setiap kali Anda selesai mempelajari sesuatu—satu bab buku, satu episode podcast, satu video tutorial—paksakan diri Anda untuk menemukan satu hal kecil yang bisa langsung Anda praktikkan dalam 24 jam ke depan. Tindakan kecil ini akan melatih otak Anda untuk selalu menghubungkan pengetahuan dengan aksi.
Kedua, ubah cara Anda mengukur kemajuan. Jangan lagi bangga dengan “berapa banyak buku yang sudah saya beli,” tapi mulailah bangga dengan “berapa banyak ide dari buku yang sudah saya coba.” Jangan lagi menghitung “berapa banyak seminar yang saya ikuti,” tapi hitunglah “berapa banyak perubahan yang saya buat setelah seminar itu.” Fokus pada output, bukan hanya input.
Pada akhirnya, sebuah semak kecil yang menghasilkan satu buah beri manis jauh lebih mulia daripada pohon mahoni raksasa yang tidak menghasilkan apa-apa. Mari kita berkomitmen untuk tidak hanya menjadi pohon yang rindang, tetapi menjadi kebun yang subur. Karena dunia tidak diubah oleh orang-orang yang paling banyak tahu, tetapi oleh mereka yang paling setia mengamalkan apa yang mereka ketahui, meskipun hanya sedikit.




