Dari Buaian Hingga Liang Lahat: Resep Kuno untuk Tetap Relevan di Dunia Modern

Dari Buaian Hingga Liang Lahat: Resep Kuno untuk Tetap Relevan di Dunia Modern

اطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ

Uthlubil ‘ilma minal mahdi ilal lahdi

“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”

 

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan teknologi, ada satu kecemasan yang menghantui banyak profesional modern: takut menjadi “ketinggalan zaman”. Istilah-istilah seperti upskilling dan reskilling kini menjadi mantra di dunia kerja, menuntut kita untuk terus belajar hal baru agar tidak tergerus oleh zaman. Tekanan untuk terus relevan ini seringkali terasa seperti sebuah beban yang melelahkan.

Namun, bagaimana jika kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda? Jauh sebelum ada seminar daring atau kursus sertifikasi, sebuah hadis sekaligus mahfuzhat yang sangat populer telah merumuskan esensi dari semua ini dengan indah dan menenangkan. Kalimat itu berbunyi, Uthlubil ‘ilma minal mahdi ilal lahdi. Terjemahannya adalah: “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.”

Pepatah ini mengubah tekanan “harus belajar” menjadi suatu undangan untuk sebuah “perjalanan seumur hidup”. Ia tidak berbicara tentang tuntutan karier atau persaingan pasar, melainkan tentang hakikat menjadi manusia itu sendiri. Belajar bukanlah sebuah fase yang kita lalui di sekolah dan kita akhiri saat wisuda, melainkan sebuah proses yang menyatu dengan napas kehidupan kita, dari awal hingga akhir.

Artikel ini akan menjadi teman perjalanan Anda dalam memaknai kembali konsep belajar seumur hidup. Kita akan membedah setiap tahap dari perjalanan agung ini—dari buaian, masa produktif, hingga usia senja—dan menemukan bagaimana resep kuno ini justru menjadi kunci paling ampuh untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga bertumbuh di dunia modern yang terus berubah.

 

“Minal Mahdi”: Belajar sebagai Fitrah dan Petualangan Pertama

Mari kita mulai dari titik awal: “dari buaian” (minal mahdi). Bagian ini mengingatkan kita bahwa belajar bukanlah sesuatu yang dipaksakan, melainkan sebuah insting alami, sebuah fitrah. Coba perhatikan seorang bayi. Seluruh dunianya adalah laboratorium raksasa. Ia belajar tentang gravitasi dengan menjatuhkan sendok berulang kali (meski terkadang membuat orang tuanya pusing). Ia adalah seorang ilmuwan cilik yang tak kenal lelah.

Seorang balita belajar berbicara bukan karena ia mengikuti kursus, melainkan karena didorong oleh rasa ingin tahu yang murni untuk terhubung dengan dunia di sekitarnya. Setiap kata baru adalah sebuah penemuan, setiap pertanyaan “kenapa?” adalah sebuah ekspedisi ilmiah. Di fase ini, belajar adalah sinonim dari bermain, dan rasa ingin tahu adalah kompas utamanya. Tidak ada rasa takut gagal, yang ada hanyalah kegembiraan saat mencoba.

Fase “buaian” ini mengajarkan kita pelajaran fundamental: manusia terlahir sebagai pembelajar. Semangat untuk mencari tahu, mencoba hal baru, dan memahami dunia adalah program dasar yang sudah terpasang dalam diri kita. Masalahnya, seiring berjalannya waktu, sistem pendidikan formal dan tekanan sosial seringkali memadamkan api rasa ingin tahu ini dan menggantinya dengan kewajiban menghafal.

Pepatah ini mengajak kita untuk mengingat dan menyalakan kembali api dari masa kecil kita itu. Belajar seharusnya tidak pernah kehilangan elemen petualangan dan kegembiraannya. Ia adalah hakikat kita sebagai manusia yang selalu ingin tahu, selalu ingin bertumbuh, persis seperti saat kita pertama kali menemukan bahwa kita bisa memasukkan jempol kaki ke dalam mulut.

 

Memasuki Dunia Nyata: Mengapa Garis Finis Wisuda Hanyalah Garis Start Baru

Bagi banyak orang, momen wisuda terasa seperti garis finis. Topi toga dilempar ke udara sebagai simbol bahwa “masa belajar” telah berakhir. Inilah kesalahpahaman terbesar di era modern. Di dunia yang berubah setiap detik, menganggap wisuda sebagai akhir dari belajar sama seperti menganggap lulus SIM sebagai akhir dari belajar mengemudi. Perjalanan yang sesungguhnya justru baru saja dimulai.

Di sinilah relevansi pepatah ini menjadi sangat tajam. Terus menuntut ilmu setelah pendidikan formal selesai bukanlah lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk bisa bertahan. Keterampilan yang relevan lima tahun lalu mungkin sudah usang hari ini. Orang yang berhenti belajar akan menjadi fosil di tengah ekosistem yang terus berevolusi.

Namun, “belajar” di fase ini tidak melulu tentang gelar akademis atau sertifikat. Ia bisa berarti belajar mengelola keuangan, belajar berkomunikasi secara efektif, belajar memasak, atau belajar tentang kesehatan mental. Setiap keterampilan baru yang kita pelajari adalah sebuah “alat” baru yang kita tambahkan ke dalam “kotak perkakas” kehidupan kita, membuat kita lebih siap menghadapi berbagai tantangan.

Di zaman sekarang, banyak yang mengira menuntut ilmu itu sama dengan mengumpulkan sertifikat webinar, yang seringkali nasibnya berakhir di folder “Lain-lain” dan tak pernah dibuka lagi. Padahal, ilmu yang sejati adalah yang mengubah cara kita berpikir dan bertindak, bukan sekadar yang bisa dicetak di atas kertas.

 

“Ilal Lahdi”: Belajar sebagai Kunci Semangat Hidup dan Kebahagiaan di Usia Senja

Bagian paling menyentuh dari pepatah ini adalah batas akhirnya: “hingga liang lahat” (ilal lahdi). Ini adalah sebuah pesan yang penuh harapan dan martabat. Ia menyatakan bahwa proses belajar tidak berhenti saat kita pensiun atau saat rambut kita memutih. Justru di masa inilah, belajar menemukan makna barunya: sebagai sumber semangat dan gairah hidup serta kebahagiaan.

Studi ilmiah telah membuktikan bahwa menjaga otak tetap aktif melalui kegiatan belajar dapat secara signifikan memperlambat penurunan fungsi kognitif dan bahkan mengurangi risiko penyakit seperti demensia. Mempelajari bahasa baru, bermain catur, atau bahkan sekadar belajar menggunakan video call untuk menyapa cucu adalah bentuk latihan yang sangat baik untuk menjaga otak tetap tajam dan sehat.

Lebih dari itu, belajar di usia senja memberikan sebuah tujuan (purpose). Ia membuka pintu-pintu baru untuk interaksi sosial, hobi, dan kegembiraan. Bayangkan seorang kakek yang akhirnya punya waktu untuk belajar melukis, atau seorang nenek yang bergabung dengan kelas mengaji dan menemukan komunitas baru. Belajar menjadi cara untuk terus bertumbuh dan memberi makna pada setiap hari yang dijalani.

Inilah puncak dari filosofi belajar seumur hidup. Ia bukan lagi tentang karier atau persaingan, melainkan tentang merayakan kehidupan itu sendiri. Ia adalah penegasan bahwa selama kita masih bernapas, kita masih memiliki kapasitas untuk tumbuh, berubah, dan menemukan keindahan baru di dunia ini.

 

Menjadi Pembelajar Abadi: Merancang Kurikulum Kehidupan Anda Sendiri

Bagaimana kita bisa menghidupi semangat minal mahdi ilal lahdi ini dalam praktik? Kuncinya adalah dengan mengubah pola pikir. Jangan melihat belajar sebagai sebuah “acara” yang butuh persiapan besar, tapi lihatlah ia sebagai sebuah “kebiasaan” harian yang bisa diintegrasikan dalam hidup.

Pertama, rawatlah rasa ingin tahu Anda. Bacalah buku tentang topik yang sama sekali tidak Anda ketahui. Tontonlah video dokumenter. Saat berbicara dengan orang lain, jadilah pendengar yang baik dan belajarlah dari perspektif mereka. Jadikan “Saya tidak tahu, mari kita cari tahu bersama” sebagai salah satu kalimat favorit Anda.

Kedua, rancang “kurikulum pribadi” Anda. Setiap beberapa bulan, tentukan satu keterampilan kecil yang ingin Anda pelajari. Mungkin bulan ini belajar dasar-dasar Excel, bulan depan belajar cara membuat kopi yang enak, bulan berikutnya belajar tentang sejarah lokal. Kemajuan kecil yang konsisten jauh lebih baik daripada rencana besar yang tidak pernah dimulai.

Pada akhirnya, pepatah ini adalah sebuah pembebasan. Ia membebaskan kita dari kungkungan usia dan ijazah. Ia memberi kita izin untuk menjadi seorang pemula lagi dan lagi, untuk terus bertanya, untuk terus tumbuh. Ia adalah undangan untuk menjalani kehidupan yang kaya, dinamis, dan penuh makna, dari napas pertama hingga napas terakhir.

Copyright © 2026 Mahfuzhat