مَنْ سَارَ عَلَى الدَّرْبِ وَصَلَ
Man saara ‘alad darbi washala
“Barang siapa berjalan pada jalurnya, maka ia akan sampai.”
Setiap awal tahun, jutaan orang di seluruh dunia menetapkan resolusi: ingin lebih sehat, menguasai keterampilan baru, atau mencapai target karier. Namun, beberapa minggu kemudian, semangat itu seringkali menguap. Tujuan yang tadinya terlihat jelas di cakrawala, kini kembali kabur tertutup kabut rutinitas dan kemalasan. Kita tahu ke mana kita ingin pergi, tapi entah kenapa kita merasa tersesat di tengah jalan.
Di tengah kebingungan modern ini, ada sebuah pepatah Arab kuno yang berfungsi layaknya sebuah kompas yang sederhana namun sangat akurat. Pepatah itu berbunyi, Man Saara ‘Alad Darbi Washala. Terjemahannya begitu logis dan menenangkan: “Barang siapa berjalan pada jalannya (jalurnya), maka ia akan sampai.” Kalimat ini tidak menjanjikan kecepatan kilat atau jalan pintas ajaib, namun ia menjanjikan sesuatu yang jauh lebih penting: kepastian.
Di dunia yang terobsesi dengan “life hacks”, jalan tikus, dan cara-cara instan untuk berhasil, konsep “berjalan pada jalurnya” mungkin terdengar membosankan dan ketinggalan zaman. Kita lebih tertarik pada cerita tentang mereka yang melompat dari titik A ke Z, dan seringkali melupakan ribuan orang lain yang berhasil hanya dengan melangkah secara konsisten dari A, ke B, ke C, dan seterusnya. Pepatah ini mengajak kita untuk kembali menghargai kekuatan proses.
Artikel ini akan menjadi panduan Anda untuk memahami peta kuno ini. Kita akan membedah tiga elemen kuncinya: apa itu “jalur” yang benar, bagaimana seni “berjalan” yang efektif, dan apa makna sesungguhnya dari “sampai” di tujuan. Mari kita temukan bagaimana prinsip sederhana ini bisa menjadi sistem navigasi paling andal untuk perjalanan hidup kita.
Metafora “Ad-Darbi”: Pentingnya Memilih Jalan yang Tepat
Elemen pertama dan paling fundamental dari pepatah ini adalah “Ad-Darbi” atau “jalur”. Ini menegaskan sebuah prinsip krusial: sebelum kita mulai melangkah, kita harus yakin bahwa kita berada di jalur yang benar. Berjalan ribuan kilometer dengan kecepatan tinggi tidak akan ada gunanya jika kita berjalan ke arah yang salah. Ini adalah fase strategi, fase perencanaan sebelum eksekusi.
Memilih “jalur” dalam kehidupan modern berarti memiliki kejelasan tujuan. Apa yang sebenarnya ingin Anda capai? Mengapa itu penting bagi Anda? Tanpa jawaban yang jelas atas pertanyaan ini, kita akan mudah tergoda untuk mengambil setiap persimpangan menarik yang kita temui, dan akhirnya kita hanya berputar-putar di tempat yang sama. Inilah perbedaan esensial antara “sibuk” dan “produktif”. Orang sibuk terus bergerak, orang produktif bergerak di jalur yang benar.
Jalur yang baik seringkali bukanlah jalan yang kita ciptakan sendiri dari nol. Ia bisa berupa ilmu pengetahuan yang sudah teruji, nasihat dari seorang mentor yang berpengalaman, atau prinsip-prinsip universal yang telah terbukti berhasil. Memilih jalur yang tepat berarti memiliki kerendahan hati untuk belajar dari orang lain, alih-alih bersikeras menemukan semua jawaban sendirian. Ini adalah tentang berdiri di atas bahu para raksasa.
Tentu saja, jalur yang benar tidak selalu berarti jalan tol yang lurus dan mulus. Ia bisa jadi jalan setapak yang menanjak, berkelok, dan penuh bebatuan. Namun, selama kita tahu bahwa setiap langkah di jalan sulit ini membawa kita lebih dekat ke puncak, kita akan memiliki kekuatan untuk terus maju. Keyakinan pada jalur yang kita pilih adalah bahan bakar utama saat perjalanan terasa berat.
Filosofi “Saara”: Kekuatan Ajaib dari Satu Langkah Konsisten
Setelah memilih jalur, kini saatnya untuk “Saara”, yaitu berjalan. Perhatikan, kata yang digunakan adalah “berjalan”, bukan “berlari” atau “melompat”. Ini menyiratkan sebuah gerakan yang teratur, stabil, dan berkelanjutan. Kekuatan sesungguhnya tidak terletak pada satu ledakan energi yang dahsyat, melainkan pada konsistensi langkah-langkah kecil yang kita ambil setiap hari.
Coba bayangkan Grand Canyon. Ngarai raksasa yang megah itu tidak terbentuk oleh satu kali banjir bandang yang dahsyat. Ia terbentuk oleh aliran sungai yang sama, yang mengikis bebatuan sedikit demi sedikit, selama jutaan tahun. Prinsip yang sama berlaku dalam pencapaian manusia. Kesuksesan besar adalah akumulasi dari ribuan usaha kecil yang dilakukan secara persisten saat tidak ada seorang pun yang menonton.
Musuh terbesar dari “Saara” di abad ke-21 adalah distraksi. Jalur kita mungkin sudah benar, namun di kiri dan kanannya kini dipenuhi oleh papan reklame digital yang berkedip-kedip: notifikasi media sosial, berita viral, atau godaan untuk mencoba “peluang baru” setiap minggu. Kemampuan untuk tetap “berjalan” berarti kemampuan untuk menundukkan kepala, fokus pada langkah di depan kita, dan mengabaikan semua gangguan yang tidak relevan.
Lucunya, banyak dari kita adalah praktisi “Saara” yang sangat andal, terutama saat sebuah serial TV baru merilis seluruh episodenya sekaligus. Kemampuan kita untuk terus “berjalan” dari satu episode ke episode berikutnya hingga fajar menyingsing adalah bukti bahwa kita sebenarnya punya bakat konsistensi. Pertanyaannya adalah, bisakah kita menyalurkan bakat super itu ke jalur yang lebih produktif?
Makna “Washala”: Mendefinisikan Ulang Arti “Sampai”
Dan akhirnya, kita tiba pada janji manis di akhir pepatah: “Washala” atau “sampai”. Bagian ini memberikan sebuah jaminan yang menenangkan. Ia menyatakan bahwa “sampai” adalah konsekuensi yang tak terelakkan dari dua syarat sebelumnya: memilih jalur yang benar dan terus berjalan di atasnya. Ini mengubah harapan dari “semoga saya sampai” menjadi “saya pasti akan sampai”. Ini adalah tentang keyakinan pada proses.
Namun, “sampai” tidak selalu berarti satu titik besar di garis finis. Setiap kemajuan kecil yang kita buat di sepanjang jalur adalah sebuah bentuk “sampai” mini. Menyelesaikan satu bab buku, berhasil lari satu kilometer lebih jauh, atau menguasai satu baris kode program—semua itu adalah momen “Washala” yang perlu dirayakan. Menghargai pencapaian-pencapaian kecil ini akan menjaga semangat kita tetap menyala dalam perjalanan yang panjang.
Terkadang, perjalanan di sebuah jalur justru membuat kita sadar bahwa tujuan awal kita perlu disesuaikan. Kita mungkin memulai jalur untuk menjadi seorang akuntan, namun di tengah jalan kita “sampai” pada kesadaran bahwa hasrat sejati kita adalah menjadi seorang analis data. Dalam kasus ini, “Washala” bukanlah kegagalan mencapai tujuan awal, melainkan keberhasilan “sampai” pada pemahaman diri yang lebih dalam.
Pada akhirnya, “sampai” yang paling berharga adalah transformasi yang terjadi pada diri sang musafir. Orang yang memulai perjalanan tidak akan pernah sama dengan orang yang tiba di tujuan. Ia menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih tangguh karena telah melewati semua tanjakan dan kelokan di jalurnya. Itulah kemenangan sejati yang dijanjikan oleh prinsip Man Saara ‘Alad Darbi Washala.
Navigasi Praktis: Menerapkan Kompas Kuno di Kehidupan Modern
Bagaimana cara kita menggunakan kompas ini dalam kehidupan sehari-hari? Pertama, luangkan waktu untuk mendefinisikan “Ad-Darbi” (jalur) Anda dengan jelas. Tuliskan tujuan Anda, pecah menjadi target-target yang lebih kecil, dan buatlah rencana langkah-demi-langkah. Jangan takut meminta nasihat dari mereka yang sudah pernah melewati jalur serupa. Kejelasan di awal akan menghemat banyak waktu dan energi nantinya.
Kedua, berkomitmenlah untuk “Saara” (berjalan) setiap hari. Kunci dari ini adalah membangun kebiasaan. Daripada mengandalkan motivasi yang naik-turun, andalkan sistem dan disiplin. Tentukan satu atau dua tindakan kecil yang akan Anda lakukan setiap hari tanpa kecuali, sekecil apa pun itu. Momentum dibangun dari konsistensi, bukan dari intensitas sesaat.
Ketiga, bersiaplah menghadapi rintangan. Akan ada hari-hari di mana Anda merasa lelah, ragu, atau bahkan sempat keluar dari jalur. Itu normal. Pepatah ini tidak menuntut kesempurnaan. Ketika Anda terjatuh atau tersesat, tugas Anda bukanlah menyerah, melainkan hanya berdiri kembali, mencari jalur Anda, dan mulai melangkah lagi dari titik di mana Anda berada.
Terakhir, percayalah pada prosesnya. Di dunia yang serba instan, mempercayai kekuatan langkah-langkah kecil membutuhkan kesabaran. Namun, Man Saara ‘Alad Darbi Washala adalah pengingat abadi bahwa tidak ada usaha konsisten yang sia-sia. Setiap langkah dihitung. Setiap langkah membawa Anda lebih dekat. Anda hanya perlu terus berjalan, dan pada waktunya, Anda pasti akan sampai.




