Man jadda wajada.
Barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.
Di antara sekian banyak pepatah yang kita dengar sejak bangku sekolah, mungkin tidak ada yang lebih ikonik selain Man Jadda Wajada. Tiga kata dari bahasa Arab ini seringkali menjadi mantra sakti yang diteriakkan para guru untuk menyemangati murid-muridnya. Secara sederhana, artinya adalah “Barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil”. Sebuah kalimat yang terdengar optimis, lugas, dan penuh harapan.
Sekilas, pepatah ini tampak seperti slogan motivasi pada umumnya. Mudah diucapkan, bagus untuk dijadikan status di media sosial, dan ampuh untuk menyemangati diri saat sedang lesu. Namun, jika kita berhenti sejenak dan merenung, kita akan sadar bahwa di balik kesederhanaannya, tersimpan sebuah rumus kehidupan yang sangat mendalam. Ia bukan sekadar kata-kata penyemangat, melainkan sebuah prinsip kerja alam semesta.
Namun, mari kita jujur. Di zaman yang serba cepat ini, di mana hasil instan seringkali lebih dipuja daripada proses yang berliku, apakah rumus kuno ini masih relevan? Bukankah kita sering melihat ada orang yang sepertinya tidak terlalu bekerja keras tapi sukses, sementara yang lain banting tulang siang-malam tapi hasilnya begitu-begitu saja? Pertanyaan ini wajar, dan justru inilah yang membuat pepatah ini semakin menarik untuk dibedah.
Artikel ini akan mengajak Anda untuk menyelam lebih dalam ke makna Man Jadda Wajada. Kita akan membongkar rahasia di balik setiap katanya, melihat bagaimana prinsip ini bekerja dalam kehidupan nyata, dan yang terpenting, bagaimana kita bisa mengubahnya dari sekadar hafalan menjadi sebuah sistem operasi yang berjalan otomatis dalam diri kita untuk meraih pencapaian terbaik.
Apa Sebenarnya Arti “Jadda”? Lebih dari Sekadar Kerja Keras
Hal pertama yang perlu kita luruskan adalah makna kata “Jadda”. Banyak yang mengartikannya sebatas “bekerja keras”. Padahal, maknanya jauh lebih dari itu. “Jadda” berarti sebuah keseriusan dan kesungguhan yang total. Ini adalah kondisi di mana pikiran, hati, dan tenaga kita tercurah penuh pada satu tujuan. Ini adalah antitesis dari bekerja sambil lalu, belajar sambil melamun, atau berusaha dengan setengah hati.
Dalam dunia psikologi modern, konsep ini sangat mirip dengan apa yang disebut “Grit” oleh peneliti Angela Duckworth. Grit adalah kombinasi dari gairah (semangat yang membara) dan kegigihan (mental baja). Ini bukan tentang semangat yang meledak-ledak di awal lalu padam, melainkan tentang daya tahan untuk terus melangkah, hari demi hari, bahkan ketika jalan terasa datar, membosankan, atau penuh tanjakan. “Jadda” adalah maraton, bukan sprint.
Lebih dalam lagi, kesungguhan yang paling otentik dan tahan lama adalah yang dilandasi oleh niat yang tulus (ikhlas). Mengapa? Karena jika kesungguhan kita hanya didorong oleh keinginan untuk dipuji orang, kita akan mudah patah semangat saat tidak ada yang bertepuk tangan. Namun, jika niat kita adalah untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri, maka proses itu sendiri sudah menjadi sebuah kemenangan, terlepas dari apa kata orang.
Seringkali kita terjebak dalam perdebatan antara “kerja keras” dan “kerja cerdas”. Keduanya seolah-olah dua kubu yang saling bermusuhan. Nah, “Jadda” inilah momen ketika kerja keras dan kerja cerdas akhirnya memutuskan untuk berdamai, minum kopi bersama, lalu berkolaborasi menciptakan sebuah mahakarya. Ia adalah perpaduan antara mengerahkan seluruh tenaga dan menggunakan strategi yang tepat.
Misteri “Wajada”: Ketika Hasil Tak Sesuai Perkiraan
Sekarang, mari kita bedah kata kedua, “Wajada”. Umumnya diterjemahkan sebagai “ia akan berhasil” atau “mendapatkan”. Namun, terjemahan yang lebih akurat dan indah adalah “ia menemukan”. Perbedaan tipis antara “mendapatkan” dan “menemukan” ini ternyata sangat besar dampaknya. “Mendapatkan” memberi kesan bahwa kita akan memperoleh persis seperti apa yang kita pesan. “Menemukan”, di sisi lain, membuka pintu untuk kejutan dan penemuan tak terduga di sepanjang jalan.
Hasil dari kesungguhan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan di awal. Kadang, kita bersungguh-sungguh ingin menjadi dokter, namun di tengah jalan kita justru “menemukan” bakat luar biasa dalam seni. Analogi menabung sangat pas di sini. Setiap hari kita memasukkan sedikit uang (usaha), awalnya tidak terasa. Tapi setelah setahun, kita “menemukan” bahwa tabungan kita sudah cukup besar. Hasil seringkali merupakan akumulasi dari cicilan usaha harian.
Seringkali, “penemuan” terbesar dari sebuah perjuangan bukanlah piala, ijazah, atau jabatan. Penemuan terbesar itu adalah versi baru dari diri kita sendiri. Pribadi yang terbentuk setelah melewati proses kesungguhan—yang kini menjadi lebih sabar, lebih kuat, lebih disiplin, dan lebih bijaksana—adalah “hasil” yang tidak akan pernah bisa hilang atau dicuri oleh siapa pun. Perjalanan itu sendiri telah mengubah sang musafir.
Lalu, bagaimana jika kita merasa sudah bersungguh-sungguh tapi tetap gagal? Di sinilah keajaiban kata “menemukan” bekerja. Anda tidak benar-benar gagal, Anda “menemukan”. Anda “menemukan” cara yang ternyata tidak efektif. Anda “menemukan” sebuah kelemahan yang perlu diperbaiki. Atau, Anda “menemukan” bahwa tujuan tersebut mungkin memang bukan yang terbaik untuk Anda. Dalam kamus Man Jadda Wajada, tidak ada usaha tulus yang berakhir sia-sia.
Hukum Alam yang Pasti: Mengapa Usaha dan Hasil Selalu Terhubung
Pada intinya, Man Jadda Wajada sedang menjelaskan sebuah hukum sebab-akibat yang berlaku universal. Anggap saja ini seperti hukum gravitasi dalam kehidupan. Jika kita melepaskan apel dari tangan, ia pasti akan jatuh ke bawah. Begitu pula, jika kita menanam benih kesungguhan dan merawatnya, pasti akan ada sesuatu yang tumbuh. Ini adalah sebuah “hukum alam” dalam ranah pengembangan diri manusia.
Dalam sudut pandang spiritual, prinsip ini sama sekali tidak meniadakan peran Tuhan. Justru, ia memperjelas pembagian peran. “Jadda” (usaha) adalah panggung tempat manusia beraksi sekuat tenaga. Sementara “Wajada” (hasil) adalah hak prerogatif Tuhan untuk memberikannya dalam bentuk dan waktu terbaik menurut-Nya. Tugas kita adalah menyempurnakan usaha, lalu menyerahkan hasilnya dengan penuh percaya. Ini adalah formula jitu untuk hidup produktif tanpa stres berlebihan.
“Tapi, bagaimana dengan orang yang punya privilege atau start-nya lebih mudah?” Pertanyaan bagus. Pepatah ini tetap berlaku adil. Ia tidak menilai semua orang dari garis finis yang sama, tapi dari jarak tempuh yang berhasil dilalui. Seseorang yang memulai dari titik minus sepuluh dan berjuang mati-matian hingga mencapai titik nol, perjalanannya jauh lebih bernilai daripada seseorang yang memulai dari titik seratus tapi hanya diam bermalas-malasan di sana dan tidak kemana-mana.
Orang yang benar-benar meresapi prinsip ini akan memiliki mental seorang kapten kapal, bukan sekadar penumpang. Ia percaya bahwa ia memegang kendali atas arah hidupnya. Ia tidak mudah menyalahkan keadaan, cuaca, atau nasib buruk. Ia tahu bahwa dengan dayung kesungguhan di tangannya, ia bisa mengarungi samudra kehidupan dan “menemukan” daratan-daratan baru yang menakjubkan.
Dari Teori ke Aksi: Cara Menghidupkan “Man Jadda Wajada” Setiap Hari
Teorinya sudah kita pahami, sekarang bagaimana cara mempraktikkannya? Langkah pertama adalah membuat “kesungguhan” Anda menjadi sesuatu yang jelas dan terukur. Jangan hanya berkata, “Saya mau rajin.” Ubah menjadi, “Saya akan membaca buku 15 halaman setiap hari,” atau “Saya akan berolahraga 30 menit setiap pagi.” Tujuan yang jelas membuat usaha kita lebih terarah.
Kunci berikutnya, dan ini yang paling penting, adalah konsistensi (istiqamah). Tetesan air bisa melubangi batu yang keras bukan karena kekuatannya yang dahsyat, melainkan karena ia menetes terus-menerus di titik yang sama. Seratus langkah kecil yang dilakukan setiap hari akan membawa Anda lebih jauh daripada satu lompatan raksasa yang hanya dilakukan sekali setahun. Bangun kebiasaan baik, sekecil apa pun itu.
Jangan lupa untuk sesekali melakukan evaluasi. Ibarat mesin penggerak, usaha kita juga perlu “diservis” secara berkala. Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah cara yang saya lakukan sudah efektif? Atau saya hanya sibuk tapi tidak produktif?” Momen refleksi ini adalah saat di mana “kerja cerdas” datang untuk memastikan “kerja keras” kita tidak salah arah.
Pada akhirnya, menghidupkan Man Jadda Wajada adalah sebuah keputusan sadar untuk menjadi pemeran utama dalam film tentang hidup kita, bukan hanya jadi figuran. Ini adalah komitmen untuk mencintai prosesnya, menikmati perjuangannya, dan percaya bahwa setiap tetes keringat keseriusan adalah investasi yang pasti akan membuahkan “penemuan” berharga. Jadi, mari kita ubah pertanyaan dalam benak kita, dari “Kapan ya saya bisa sukses?” menjadi “Sudah seserius apa usaha saya hari ini?”.




